JAKARTA, Bhayangkara101.co.id – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menegaskan bahwa dekarbonisasi bukan sekadar tantangan bagi industri, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui efisiensi, pembiayaan, investasi, dan peningkatan daya saing.
Hal tersebut disampaikan Wamenkeu dalam Leaders Talk Pertamina International Shipping bertajuk “The Fiscal Economics of Decarbonization: What It Means for Indonesia’s Shipping Industry” pada 26/08/2026.
Menurut Wamenkeu Suahasil Nazara, arah kebijakan menuju ekonomi rendah karbon perlu dipahami dunia usaha sebagai bagian dari perubahan lanskap ekonomi global.
“Dekarbonisasi yang kita canangkan dan kita pahami, kita yakini harus kita lakukan karena kita ingin mewariskan dunia yang lebih baik itu bukan penghambat pertumbuhan, bukan penghambat kegiatan ekonomi, tetapi sebenarnya dia adalah potensi dari kegiatan ekonomi baru,” jelas Wamenkeu.
Lebih lanjut, Wamenkeu Suahasil Nazara menyampaikan bahwa pemerintah terus membangun ekosistem tersebut melalui berbagai instrumen kebijakan fiskal, antara lain carbon pricing, insentif perpajakan untuk teknologi rendah emisi, skema de-risking, serta pembiayaan berkelanjutan seperti Green Sukuk, Blue Bonds, dan SDG Bonds.
Di sisi lain, Wamenkeu menilai pengembangan pasar karbon domestik masih perlu diperkuat. Indonesia telah memiliki Bursa Karbon sejak 2023, namun perlu terus didorong agar memiliki likuiditas, integritas, dan mekanisme price discovery yang lebih baik.
“Karbon yang diproduksi di Indonesia idealnya juga dijual di Indonesia dan demand di Indonesia itu enggak kurang-kurang,” ungkap Wamenkeu.
Secara khusus pada industri pelayaran, Wamenkeu mendorong agar kebijakan dekarbonisasi diterjemahkan menjadi strategi bisnis dan keunggulan kompetitif. Perusahaan perlu melihat peluang dari investasi teknologi rendah emisi, efisiensi operasional, pembiayaan hijau, serta meningkatnya kebutuhan pelanggan terhadap layanan transportasi rendah karbon.
“Agenda untuk di level perusahaan adalah bagaimana menerjemahkan signal kebijakan menjadi keunggulan daya saing,” ujar Wamenkeu.
Dalam paparannya, Wamenkeu Suahasil juga menekankan pentingnya bergerak lebih awal dalam menghadapi transisi rendah karbon.
“Saya yakin kalau bergerak lebih awal akan memberi perusahaan ruang yang lebih besar menangkap peluang efisiensi, peluang pembiayaan, dan peluang pasar dari transisi rendah karbon ini. Jadi, act now untuk masa depan yang lebih baik,” pungkas Wamenkeu Suahasil.
(MB101 Biro KLI Kemenkeu)
Ringkasan Berita:
- Wamenkeu Suahasil Nazara menilai dekarbonisasi membuka peluang ekonomi baru.
- Peluang tersebut mencakup efisiensi, pembiayaan, investasi, dan peningkatan daya saing.
- Pemerintah menyiapkan berbagai instrumen fiskal, termasuk carbon pricing dan pembiayaan berkelanjutan.
- Pasar karbon domestik Indonesia dinilai masih perlu diperkuat dari sisi likuiditas, integritas, dan price discovery.
- Industri pelayaran didorong menjadikan transisi rendah karbon sebagai strategi bisnis dan keunggulan kompetitif.













