JAKARTA, Bhayangkara101.co.id – Ketidakpastian geopolitik global yang semakin meningkat mendorong pemerintah mempercepat penataan sektor energi nasional. Konflik yang masih berlangsung di sejumlah kawasan, ketegangan perdagangan antarnegara, hingga fluktuasi harga energi dunia menjadi alasan pemerintah memperkuat pemanfaatan sumber energi domestik untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengibaratkan kondisi geopolitik global saat ini seperti penyakit malaria yang sulit diprediksi perkembangannya. Menurutnya, situasi dunia dapat berubah sangat cepat dan berdampak langsung terhadap rantai pasok maupun harga energi.
“Geopolitik sekarang ini mirip malaria. Jadi kalau pagi sembuh, siang udah mulai keringat dingin. Itulah kira-kira perumpamaan geopolitik sekarang. Hari ini bisa damai, sudah ditekan, besok muncul lagi. Sulit bagi kita untuk menjadikan baseline mana yang akan dijadikan sebagai rujukan,” jelas Bahlil saat mengisi acara Energy Forum CNBC Indonesia di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Karena itu, pemerintah mulai menyiapkan berbagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi, mulai dari Liquefied Petroleum Gas (LPG), Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga minyak mentah.
Salah satu program yang tengah dipersiapkan adalah pengembangan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG bersubsidi 3 kilogram. Program yang telah memasuki tahap uji coba ketiga tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor dengan memanfaatkan pasokan gas domestik yang melimpah.
Pemerintah menilai CNG dapat menjadi solusi jangka panjang karena memanfaatkan gas bumi nasional dan memiliki biaya yang lebih kompetitif. Menurut Bahlil, penggunaan CNG berpotensi 30–40 persen lebih murah dibandingkan LPG.
“LPG ini nggak ada cara lain untuk kita mengurangi devisa yang keluar dan mengurangi subsidi. Harus ada namanya bauran energi, makanya kita dorong sekarang CNG,” ujar Bahlil.
Di saat yang sama, pemerintah juga mempercepat implementasi biodiesel B50 yang ditargetkan mulai diluncurkan pada Juli 2026. Kebijakan tersebut menjadi salah satu instrumen utama untuk mengurangi impor solar sekaligus meningkatkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri berbasis minyak sawit.
“Besok Juli akan kita resmikan B50. Itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar kita,” ungkap Bahlil.
Bahlil menegaskan, program B50 menjadi fondasi target penghentian impor solar pada tahun ini. Selain memperkuat ketahanan energi, kebijakan tersebut diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor sawit nasional.
Meski berfokus pada peningkatan pasokan energi dalam negeri, pemerintah tetap membuka peluang diversifikasi sumber impor energi. Salah satunya melalui kajian potensi impor minyak mentah dari Rusia yang saat ini tengah dilakukan oleh lembaga teknis di bawah Kementerian ESDM. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan Indonesia memiliki alternatif pasokan apabila terjadi gangguan pada pasar energi global.
Di sektor hulu migas, pemerintah juga terus mempercepat penyelesaian proyek-proyek strategis yang selama ini berjalan lambat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pengembangan Blok Masela, yang menurut Bahlil masih menghadapi sejumlah kendala sehingga realisasinya belum optimal.
(MB101 – Biro Komunikasi Publik Kementerian ESDM)
Ringkasan Berita
• Pemerintah mempercepat penataan sektor energi nasional untuk menghadapi ketidakpastian geopolitik global dan menjaga ketahanan energi.
• Pengembangan CNG sebagai pengganti LPG bersubsidi menjadi salah satu strategi mengurangi impor energi, dengan biaya diperkirakan 30–40 persen lebih murah dibandingkan LPG.
• Implementasi biodiesel B50 ditargetkan dimulai pada Juli 2026 guna menekan impor solar dan meningkatkan pemanfaatan minyak sawit dalam negeri.
• Pemerintah juga mengkaji potensi impor minyak mentah dari Rusia sebagai alternatif pasokan energi di tengah dinamika pasar global.
• Percepatan pengembangan Blok Masela terus didorong sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional.












