JAKARTA, Bhayangkara101.co.id — Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat mengalami pertumbuhan yang lebih lambat. Berdasarkan data terbaru, posisi ULN Indonesia mencapai 433,4 miliar dolar AS atau secara tahunan tumbuh sebesar 0,8 persen, melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan IV 2025 yang mencapai 1,9 persen.
Perkembangan posisi ULN tersebut dipengaruhi oleh kondisi ULN sektor publik maupun sektor swasta.
ULN pemerintah pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 214,7 miliar dolar AS atau tumbuh 3,8 persen secara year on year (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan IV 2025 sebesar 5,5 persen (yoy).
Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran modal asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional seiring tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN pemerintah disebut dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel untuk mendukung berbagai sektor prioritas nasional.
Berdasarkan sektor ekonomi, pemanfaatan ULN pemerintah diarahkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 22,1 persen, Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 20,2 persen, Jasa Pendidikan sebesar 16,2 persen, Konstruksi sebesar 11,5 persen, serta Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,5 persen.
Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen dari total ULN pemerintah.
Sementara itu, ULN swasta pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 191,4 miliar dolar AS, menurun dibandingkan posisi triwulan IV 2025 sebesar 194,2 miliar dolar AS.
Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,8 persen (yoy). Penurunan terjadi pada kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations), yang masing-masing mengalami kontraksi sebesar 3,6 persen dan 1,3 persen.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan dan Penggalian dengan pangsa mencapai 80,4 persen dari total ULN swasta.
ULN swasta juga masih didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,6 persen terhadap total ULN swasta.
Bank Indonesia menegaskan struktur ULN Indonesia tetap sehat dan terjaga melalui penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.
Hal tersebut tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,5 persen pada triwulan I 2026 dari sebelumnya 30,0 persen pada triwulan IV 2025.
Selain itu, struktur ULN Indonesia juga didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 85,4 persen dari total ULN nasional.
Bank Indonesia bersama pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN guna menjaga stabilitas perekonomian nasional sekaligus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Data lengkap mengenai ULN Indonesia dapat diakses melalui publikasi Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Mei 2026 pada situs resmi Bank Indonesia maupun Kementerian Keuangan.
(MB101 – Departemen Komunikasi Bank Indonesia)













