JAKARTA, Bhayangkara101.co.id – Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menyebut optimisme pemerintah tersebut berlandaskan pada fondasi pemulihan ekonomi nasional yang kian solid.
Sepanjang semester pertama tahun 2026, Indonesia berhasil mengandalkan pertumbuhan ekonomi di angka 5,45%. Kinerja ini diproyeksikan terus menguat pada kuartal III dan IV di atas 5,5%, didorong oleh indikator industri manufaktur (PMI) yang konsisten di atas level ekspansif 50, menguatnya daya tahan ekspor, serta belanja negara yang terus terjaga.
“Bapak Presiden memberikan target dan kalau memberikan target itu memang tidak boleh rendah. Seperti bahasa Bapak Presiden, gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang-bintang, kalaupun tidak tercapai kau jatuh di atas awan,” ujar Wamenkeu Suahasil dalam program Top Economy di Studio 1 Metro TV, Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Ia pun memaparkan upaya pemerintah dalam melakukan orkestrasi manajemen makroekonomi untuk merealisasikan pertumbuhan ekonomi 6% tahun depan. Menurutnya, strategi tersebut dilakukan melalui optimasi seluruh komponen Produk Domestik Bruto (PDB), di antaranya dengan menjaga konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang komponen terbesar pertumbuhan, yakni 53%–54% PDB.
“APBN adalah salah satu instrumen utama menjaga konsumsi ini. Karena APBN itu memberikan perlindungan sosial, memberikan bantuan sosial, memberikan pengurangan terhadap beban rumah tangga,” jelasnya.
Strategi lainnya dilakukan dengan mendorong investasi melalui peran Danantara. Konsolidasi aset BUMN melalui Danantara difungsikan sebagai pendorong sekaligus katalisator untuk menarik partisipasi (crowd-in) investasi swasta nasional maupun asing.
Selain itu, pemerintah juga melakukan efisiensi belanja negara dengan memfokuskan belanja pada sektor-sektor yang memiliki dampak pengganda (multiplier effect) tinggi terhadap PDB.
Wamenkeu Suahasil Nazara juga menuturkan strategi pemanfaatan peluang ekspor serta pengawasan Devisa Hasil Ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk mencegah praktik under-invoicing dan transfer pricing.
Pada kesempatan tersebut, Wamenkeu Suahasil mengutarakan hal menarik dalam perancangan RAPBN 2027, yaitu penyesuaian target defisit anggaran yang diturunkan menjadi sekitar 2,4% dari PDB. Ia menuturkan, kombinasi target pertumbuhan tinggi dan defisit yang menurun mencerminkan efisiensi APBN yang semakin baik.
“Defisit yang lebih rendah tidak menahan pertumbuhan, malah pertumbuhan naik. Ini artinya APBN kita tambah efisien. Taxpayers money memiliki dampak multiplier yang jauh lebih besar bagi perekonomian,” jelasnya.
Wamenkeu mengungkapkan bahwa pemerintah dalam RAPBN mendatang akan memperkuat 8 Klaster Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) dengan meluncurkan 10 Agenda Transformasi Indonesia yang berfokus pada aksi nyata untuk masyarakat.
Agenda ini meliputi renovasi puskesmas, rumah sakit, dan sekolah, pembentukan bursa komoditas strategis, pengembangan Pusat Finansial Internasional, elektrifikasi mobilitas rakyat, kebijakan dwi kewarganegaraan, keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga Danantara Development Management Fund.
(MB101 – Biro KLI Kemenkeu)
Ringkasan Berita:
- RAPBN 2027 menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6%.
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester pertama 2026 tercatat 5,45%.
- Pemerintah mengoptimalkan konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, dan efisiensi belanja untuk mencapai target pertumbuhan.
- Target defisit RAPBN 2027 diturunkan menjadi sekitar 2,4% dari PDB.
- Pemerintah memperkuat 8 Klaster PKPN melalui 10 Agenda Transformasi Indonesia.







