GROBOGAN, Bhayangkara101.co.id – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet meninjau perkembangan penerapan Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Desa Jatilor, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (3/11). Dari target pengembangan seluas 7.500 hektare, sekitar 3.500 hektare telah ditanami dan menunjukkan pertumbuhan sesuai harapan.
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat modernisasi budi daya padi sekaligus meningkatkan produktivitas sektor pertanian.
Dalam peninjauan itu, Wamentan Alim melihat langsung perkembangan tanaman serta pelaksanaan sistem budi daya padi intensif berbasis teknologi tinggi yang telah diperkenalkan Kementan selama dua tahun terakhir.
PM-AAS dirancang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani, dengan sasaran hasil panen mencapai 10–11 ton per hektare.
“Alhamdulillah, kita bisa melihat pertumbuhannya sesuai dengan yang diharapkan. Petani juga mendukung penerapan program ini bersama pemerintah daerah dan dinas terkait. Harapannya, produktivitas bisa meningkat hingga dua kali lipat, minimal mencapai 10–11 ton per hektare,” ujar Wamentan Alim.
Wamentan Alim mengatakan, perkembangan pertanaman di Grobogan sejauh ini menunjukkan hasil positif. Ia mengapresiasi keterlibatan petani, pemerintah daerah, dan dinas terkait yang bersama-sama mendukung penerapan sistem budi daya modern tersebut.
Menurutnya, keberhasilan PM-AAS tidak hanya diukur dari luas lahan yang telah ditanami, tetapi juga dari kemampuan sistem tersebut dalam meningkatkan hasil produksi. Oleh karena itu, pengawalan pertanaman hingga masa panen menjadi hal penting untuk memastikan target produktivitas dapat tercapai.
Secara nasional, Wamentan Alim menjelaskan bahwa target pengembangan perluasan areal tanam mencapai 1 juta hektare.
“Tentu kita berharap produktivitasnya minimal 10 ton per hektare, bahkan lebih tinggi dibandingkan pola budidaya reguler,” jelasnya.
PM-AAS Mulai Menarik Perhatian Petani Daerah Lain
Progres penerapan PM-AAS di Grobogan mulai menarik perhatian petani dari wilayah lain. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat, Solikun, mengatakan pertumbuhan tanaman yang masih berada dalam fase vegetatif telah mendorong sejumlah kelompok tani datang langsung untuk melihat sekaligus mempelajari penerapan sistem tersebut.
“Petani sangat senang karena ini menjadi hal baru bagi mereka. Bahkan, meskipun tanaman masih dalam fase vegetatif, sudah banyak kelompok tani dari wilayah lain di Kabupaten Grobogan yang datang untuk melihat langsung perkembangannya. Salah satunya kelompok tani dari Desa Tanjungharjo, Kecamatan Ngaringan, yang datang bersama penyuluh untuk belajar di sini,” ungkap Solikun.
Solikun menjelaskan, berdasarkan catatan hasil panen pada musim tanam sebelumnya, produktivitas di wilayah tersebut mencapai 6,7 ton per hektare pada musim tanam pertama (MT1) dan 5,97 ton per hektare pada musim tanam kedua (MT2).
Hasil panen tersebut menjadi gambaran produktivitas sebelumnya, sedangkan penerapan PM-AAS saat ini masih berada dalam tahap pertumbuhan tanaman.
Menurut Solikun, salah satu kendala dalam proses penanaman menggunakan metode PM-AAS adalah serangan hama tikus. Pola tanam yang lebih rapat membutuhkan pengawasan serta pengendalian hama secara intensif.
Petani bersama petugas pertanian melakukan penanganan melalui koordinasi dengan Dinas Pertanian.
“Untuk kendala utama saat ini adalah hama tikus. Karena pertanamannya lebih rapat, pengendalian harus dilakukan secara intensif. Kami juga merencanakan pembangunan rumah burung hantu atau rubuha agar pengendalian tikus bisa dilakukan secara alami,” jelasnya.
Dari sisi sarana produksi, Solikun menyampaikan bahwa kebutuhan pupuk untuk mendukung pertumbuhan tanaman sejauh ini telah terpenuhi. Dukungan tersebut diharapkan dapat menjaga perkembangan pertanaman agar tetap optimal hingga memasuki masa panen.
Sekolah Lapang di 19 Kecamatan Diperkuat
Wamentan Alim turut mengapresiasi dukungan pemerintah daerah yang telah mengalokasikan anggaran khusus untuk penyelenggaraan sekolah lapang di 19 kecamatan.
Menurutnya, sekolah lapang menjadi sarana penting untuk mempercepat proses pembelajaran sekaligus memperluas penyebaran praktik budi daya modern kepada kelompok tani.
“Pemerintah daerah sudah memberikan dukungan melalui penganggaran sekolah lapang di 19 kecamatan. Ini penting agar kelompok-kelompok tani bisa saling belajar, berbagi pengalaman, dan mengembangkan praktik yang sudah berhasil diterapkan di lapangan,” ungkap Wamentan Alim.
Kementan akan terus mengawal perkembangan penerapan PM-AAS, mulai dari pertumbuhan tanaman, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga hasil panen.
Evaluasi tersebut diperlukan untuk mengukur efektivitas sistem budi daya sekaligus menjadi dasar pengembangan program di wilayah lain.
Melalui PM-AAS, Kementan mendorong modernisasi pertanian yang tidak hanya berorientasi pada perluasan areal tanam, tetapi juga peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Keberhasilan penerapan PM-AAS di Grobogan diharapkan menjadi contoh pengembangan budi daya padi modern guna memperkuat produksi beras nasional.
@ Media Bhayangkara (MB101)
Sumber: Humas Kementerian Pertanian
Diterbitkan pada: 6 November 2026
(MB101 – Humas Kementan)
Ringkasan Berita:
- Wamentan Alim Setiawan Slamet meninjau penerapan PM-AAS di Desa Jatilor, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (3/11).
- Dari target pengembangan 7.500 hektare, sekitar 3.500 hektare telah ditanami dengan sasaran produktivitas mencapai 10–11 ton per hektare.
- Produktivitas sebelumnya tercatat 6,7 ton per hektare pada MT1 dan 5,97 ton per hektare pada MT2.
- Hama tikus menjadi salah satu kendala penerapan PM-AAS. Pengendalian intensif dan rencana pembangunan rumah burung hantu (rubuha) disiapkan untuk mengatasinya.
- Pemerintah daerah mendukung penerapan pertanian modern melalui penyelenggaraan sekolah lapang di 19 kecamatan, sementara Kementan terus mengawal perkembangan tanaman hingga panen.












