by

Resmikan Perpustakaan Kemenkeu, Suahasil Nazara Dorong Transformasi Digital

JAKARTA, Bhayangkara101.co.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara meresmikan Perpustakaan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang direlokasi ke gedung bersejarah, Gedung A.A. Maramis, Jakarta, pada Jumat (30/10/2026). Peresmian tersebut berlangsung di tengah peringatan Hari Oeang Republik Indonesia ke-80.

Dalam kesempatan tersebut, Menkeu menekankan pentingnya transformasi Perpustakaan Kemenkeu agar tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan koleksi fisik, tetapi juga berkembang menjadi pusat pengetahuan yang mengintegrasikan koleksi konvensional dan digital.

Perkembangan dunia digital menghadirkan berbagai jejak informasi yang perlu dikurasi dan dikelola. Langkah tersebut diperlukan agar informasi dapat menjadi bagian dari memori kolektif institusi sekaligus memastikan pengetahuan lintas generasi tetap terpelihara.

“Saya minta nanti teman-teman yang menjadi punggawa dari perpustakaan ini memikirkan bagaimana cara dengan Pak Sekjen, sehingga kalau orang datang ke sini, dia sebenarnya tidak hanya terbatas penglihatannya kepada benda fisik yang ada di sini, tetapi sesungguhnya dia masuk ke dalam suatu memori kolektif yang ada di dunia fisik maupun ada secara virtual,” ungkap Menkeu.

Menkeu meminta konsolidasi perpustakaan Kemenkeu diarahkan pada tiga langkah utama. Pertama, mengintegrasikan koleksi fisik dari masa lalu. Kedua, melakukan digitalisasi terhadap koleksi tersebut. Ketiga, mengkurasi berbagai informasi dan dokumen yang tersebar di dunia maya.

Ke depan, perpustakaan diharapkan mampu menghadirkan pengalaman yang lebih luas bagi para pengunjung, baik pegawai Kemenkeu maupun masyarakat umum.

Selain itu, Menkeu juga menyampaikan empat arahan penting kepada para pengelola perpustakaan agar fasilitas tersebut dapat berkembang dan memberikan manfaat lebih luas.

Pertama, menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang hidup.

Perpustakaan tidak cukup hanya memiliki tampilan fisik yang menarik, tetapi juga harus dipenuhi berbagai aktivitas intelektual. Kegiatan tersebut antara lain diskusi, pembelajaran, pengembangan kompetensi, hingga menjadi ruang kontemplasi.

Renovasi ruang perpustakaan juga diharapkan tetap memperhatikan prinsip pengelolaan cagar budaya yang baik.

Kedua, menyajikan pengetahuan secara visual, menarik, dan mudah dipahami.

Kurasi informasi menjadi hal penting agar koleksi yang tersedia mampu memberikan nilai tambah sekaligus memudahkan pengunjung memahami berbagai pengetahuan yang disajikan.

Ketiga, memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses terhadap pengetahuan.

Digitalisasi dan pemanfaatan teknologi perlu terus dilakukan agar koleksi perpustakaan semakin mudah ditemukan dan dijangkau oleh banyak orang. Namun, upaya tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan pemeliharaan koleksi fisik.

Keempat, membangun budaya berbagi pengetahuan di lingkungan Kemenkeu.

Budaya berbagi pengetahuan diharapkan dapat memperkuat hubungan antargenerasi, antarbidang keahlian, dan antarunit kerja. Dengan demikian, pengalaman serta pemikiran para pendahulu dapat terus dipelajari dan dikembangkan oleh generasi penerus.

Menutup arahannya, Menkeu menegaskan bahwa warisan dari para pendahulu bukan hanya berupa bangunan, aset, dan sistem, tetapi juga mencakup pemikiran, nilai, serta tanggung jawab yang harus diteruskan.

“Pada akhirnya kita tidak hanya mewarisi gedung, kita tidak hanya mewarisi aset, dan tidak hanya mewarisi sistem dari para pendahulu, kita juga mewarisi pemikiran, mewarisi nilai, dan mewarisi yang paling penting, mewarisi tanggung jawab dari para pendahulu kita,” pungkas Menkeu.


@ Media Bhayangkara101 (MB101)

Sumber: Biro Komunikasi Layanan Informasi Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Diterbitkan pada: 3 November 2026

(MB101 – Biro KLI Kemenkeu)


Ringkasan Berita:

  1. Menteri Keuangan Suahasil Nazara meresmikan Perpustakaan Kemenkeu di Gedung A.A. Maramis, Jakarta, pada Jumat (30/10/2026).
  2. Transformasi perpustakaan diarahkan menjadi pusat pengetahuan yang mengintegrasikan koleksi fisik dan digital.
  3. Menkeu meminta konsolidasi perpustakaan dilakukan melalui integrasi koleksi fisik, digitalisasi, dan kurasi informasi dunia maya.
  4. Terdapat empat arahan utama, mulai dari menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar hingga membangun budaya berbagi pengetahuan.
  5. Menkeu menegaskan pentingnya mewariskan pemikiran, nilai, dan tanggung jawab kepada generasi penerus.

News Feed