by

Gubernur BI Tegaskan Prioritas Stabilitas Rupiah di Tengah Gejolak Global

SINGAPURA, Bhayangkara101.co.id — Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar Rupiah menjadi fokus utama Bank Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian global, khususnya akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi pasar keuangan internasional. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama sejumlah investor di Singapura, 28/4/2026.

Dalam forum tersebut, Perry menjelaskan bahwa BI telah mengambil langkah strategis dengan menyesuaikan struktur suku bunga pasar (term structure) melalui kenaikan yield instrumen seperti SRBI guna menjaga daya tarik aset domestik, memperkuat arus modal asing, serta mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah agar kondisi ekonomi nasional tetap solid.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas eksternal sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Melalui komunikasi aktif dengan investor global, BI juga terus menyampaikan prospek ekonomi nasional yang dinilai tetap kuat dan adaptif di tengah tekanan global.

Perry menegaskan bahwa kerangka kebijakan BI kini mengandalkan integrated monetary policy mix yang terdiri dari tiga pilar utama. Pertama, kebijakan suku bunga untuk menjaga stabilitas Rupiah dan inflasi tetap sesuai target. Kedua, intervensi pasar valuta asing guna menjaga stabilitas eksternal serta mencegah pelemahan Rupiah berdampak pada kenaikan harga domestik. Ketiga, pengelolaan likuiditas domestik untuk memastikan kecukupan likuiditas dalam sistem keuangan nasional.

Ketiga instrumen tersebut dijalankan secara simultan dan saling melengkapi, mencerminkan pendekatan kebijakan BI yang semakin fleksibel, adaptif, dan responsif terhadap dinamika ekonomi global.

Selain itu, Perry juga menyoroti kuatnya sinergi kebijakan moneter dan fiskal antara BI dan pemerintah dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan koordinasi erat tersebut, inflasi Indonesia pada tahun 2026 diproyeksikan tetap terkendali pada kisaran 2,5±1 persen, sementara pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di rentang 4,9–5,7 persen.

Di sektor pertumbuhan, BI turut memperkuat kebijakan makroprudensial melalui insentif KLM bagi perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas, percepatan penurunan suku bunga kredit, serta penguatan digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS, transaksi lintas negara berbasis mata uang lokal, dan infrastruktur pembayaran ritel nasional.

Perry menegaskan bahwa Indonesia memiliki kapasitas kuat untuk menghadapi tekanan global, didukung fundamental ekonomi yang kokoh, koordinasi fiskal-moneter yang erat, serta kebijakan yang semakin matang dan kredibel.

Dengan fondasi tersebut, Indonesia dinilai tetap menjadi destinasi investasi yang menarik, dengan stabilitas ekonomi sebagai prioritas utama sekaligus pertumbuhan berkelanjutan sebagai tujuan strategis nasional.

(MB101 – Humas BI)