TANGSEL, MB — Dana hibah KONI Tangerang Selatan yang nilainya disebut mencapai lebih dari Rp50 miliar kembali menjadi sorotan. Pasalnya, muncul dugaan penggunaan anggaran untuk kebutuhan yang dipertanyakan kaitannya dengan pembinaan atlet, termasuk sewa kendaraan dan renovasi ruang pimpinan.
Sekretaris Aliansi Wartawan Independen Indonesia (AWII) DPC Tangerang Raya, Agus Sapto Utomo, S.sos., menilai persoalan tersebut harus dijawab secara terbuka.
“Anggaran sebesar itu seharusnya fokus pada atlet, pelatih dan peningkatan prestasi. Kalau benar ada belanja kendaraan mewah dan renovasi fasilitas pimpinan menggunakan dana hibah, publik wajar bertanya. Apa urgensinya dan apa dasar penganggarannya?” tegas Agus.
Menurutnya, AWII tidak bermaksud menghakimi atau menyimpulkan telah terjadi penyimpangan. Namun, munculnya informasi tersebut cukup menjadi alasan bagi pihak berwenang untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
“Jangan dibalas dengan bantahan normatif. Buka dokumennya, periksa SPJ-nya, cek kontraknya, lihat realisasinya. Kalau memang sesuai aturan, publik harus diberi penjelasan. Kalau ditemukan ketidaksesuaian, harus ada tindakan,” ujarnya.
Agus juga meminta Inspektorat dan aparat penegak hukum tidak hanya melihat nominal hibah, tetapi menelusuri alur penggunaan dana, perencanaan, realisasi, pertanggungjawaban, serta kesesuaian belanja dengan tujuan hibah.
“Atlet berlatih keras untuk mengharumkan nama Tangsel. Jangan sampai keringat atlet justru berhadapan dengan kemewahan pengelola anggaran,” kata Agus.
AWII, lanjut Agus, akan mendorong transparansi penuh agar dana publik benar-benar memberikan manfaat bagi olahraga dan prestasi atlet Tangerang Selatan.
“Prinsipnya sederhana: uang publik harus kembali untuk kepentingan publik. Jangan sampai dana pembinaan atlet kehilangan arah,” pungkasnya. *
(red)













