Home Bhinneka Kisah Heroik “CNN Heroes” Bergema di Taman Budaya Jawa Tengah

Kisah Heroik “CNN Heroes” Bergema di Taman Budaya Jawa Tengah

SHARE
Budi Soehardi (kanan) bersama puteranya Christian (tengah) dan Kang Yana dari Komunitas Adat Sunda Cirendeu. Foto: Taufik Alwie
article top ad

SURAKARTA, MB-Sebuah kisah inspiratif, menggugah, dan patut disimak tersaji di ruang seminar Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, Senin, 19 Agustus 2019. Yang berkisah memang bukan sembarang orang. Dialah Budi Soehardi, sosok tenar yang telah banyak menerima penghargaan nasional dan internasional atas kiprah, dedikasi dan prestasi yang diukirnya dalam mengembangkan panti asuhan di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hari itu, peraih CNN Heroes 1999 ini kembali tampil berbagi pengalaman, kali ini sebagai ikon Prestasi Pancasila 2019.  Budi merupakan satu dari 74 tokoh dan komunitas yang mendapat anugrah Apresiasi Prestasi Pancasila 2019 dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

article inline ad

Meski kisah unik pendiri Panti Asuhan Roslin ini sudah berulangkali diriwayatkannya di berbagai tempat berbeda, toh hari itu masih tetap saja mengundang antusiasme, haru  dan decak kagum hadirin. Apalagi Budi yang juga mantan pilot Garuda, Korean Air, dan Singapore Airlines, ini  menyampaikan kisahnya dengan menarik.

Budi Soehardi di tengah hamparan sawah miliknya di Kupang

Diawali dengan mengucapkan Salam Pancasila,  lelaki kelahiran Yogyakarta, 31 Agustus 1956, ini  pun berkisah mengenai awal mulanya ia dan keluarganya terjun total mengabdikan diri mengasuh dan memberikan pendidikan bagi anak-anak miskin di Kupang. Kisahnya bermula pada suatu malam di tahun 1999, ketika Budi sekeluarga sedang makan malam di kediaman mereka di Singapura.

Entah kenapa, malam itu televisi dibiarkan menyala, padahal selama ini kalau makan malam televisi tidak boleh dinyalakan agar acara makan malam bisa lebih fokus dan akrab. Saat itu sebuah stasiun televisi swasta tengah menayangkan berita tentang para pengungsi yang menjadi korban konflik Timor Timur, menyusul Refrendum yang memantik huru-hara.

Provinsi  Timor Timur akhirnya terlepas dari Indonesia, menjadi negara Timor Leste. Warga setempat yang memilih tetap bergabung dengan Indonesia berduyun-duyun mengungsi ke Nusa Tenggara Timur. Pemandangan inilah yang selalu menghiasi pemberitaan di media kala itu.

Dan malam itu Budi dan keluarganya tersentuh oleh berita tersebut di televisi. Di situ tersaji pemandangan yang sangat menyentuh. Para pengungsi tinggal di gubuk kardus, dikelilingi barang rongsok. Kain-kain spanduk pun dimanfaatkan sebagai tempat berteduh. Mereka kentara sangat menderita, kelaparan  dan kedinginan di waktu malam.

Putera bungsunya, Christian, ketika itu baru berusia 4 tahun, sampai nyeletuk, meminta papanya melakukan sesuatu untuk membantu para pengungsi. Budi pun makin tersentuh. “Tayangan televisi itu telah mengubah hidup kami,” tutur ayah tiga anak itu.

Keluarga ini yang tengah bersiap liburan keliling dunia selama 33 hari, serta-merta membatalkan rencana untuk hepi-hepi. Mereka memilih berangkat sekeluarga menuju Kupang guna turut memberikan bantuan logistik dan makanan kepada para pengungsi.

Makin dekat dengan masyarakat pengungsi, hati keluarga itu pun makin tersentuh. Budi ingin terlibat lebih jauh dan lebih memberi manfaat. Ia menyadari, bantuan logistik yang diberikannya itu hanya untuk jangka pendek, sementara pengungsi memerlukan uluran tangan untuk jangka panjang.

Dari sinilah kemudian Budi dan isterinya, Peggy, memutuskan untuk mendirikan Panti Asuhan Roslin, enam bulan setelah rutin memberikan bantuan. Nama Roslin merupakan gabungan dari nama dua oma sang isteri, yaitu, Rosalin dan Violin, yang banyak memberi nasehat kebaikan dan kebajikan kepada Peggy di masa kecil.

Panti asuhan ini awalnya menempati rumah penduduk yang disewa Budi. Saat mulai beroperasi, panti asuhan merawat empat bayi yang telantar. Kondisi mereka mengenaskan, kurus, kurang gizi parah, dan sekujur tubuhnya dipenuhi luka bernanah pula. Berkat perawatan yang telaten, keempat bayi itu berangsur tumbuh sehat.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pula bayi-bayi yang dirawat di sana, hingga mencapai 16 orang. Rumah itu pun terasa sempit. Lantas pada 2002, Budi memutuskan membangun gedung permanen dengan dana sebagian besar diambil dari tabungannya sendiri. Sejak 2002 ini pula, Peggy memilih menetap di Kupang, sementara Budi dan ketiga anaknya masih bolak-balik Singapura-Jakarta-Kupang.

Secara bertahap gedung yang dibangun terus berkembang, dan hingga kini terdapat tujuh gedung yang berdiri kokoh di areal 1,1 hektare. Kompleks panti asuhan ini terletak di Desa Oelnasi, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, NTT. Di kompleks ini juga terdapat Sekolah Roslin, yang dibangun tahun 2013. Siswa tidak dipungut biaya, bahkan diberi makanan dan susu gratis. Sebagian besar siswa sebelum masuk kelas dimandikan dulu  di sekolah, lalu diberi seragam. Maklum, mereka anak orang miskin yang jarang mandi karena krisis air. 

Panti Asuhan Roslin memang bukanlah panti asuhan biasa. Anak-anak yang diasuh di situ bukan hanya memperoleh tempat tinggal, perawatan dan makanan, tapi yang lebih penting lagi mereka memperoleh pendidikan yang layak hingga ke perguruan tinggi.  Menurut Budi, pemberian terbaik adalah pendidikan. “Dengan bekal pendidikan, mereka bisa berbuat dan berkontribusi apa saja,” kata Budi.

Dan Budi pun tak segan menyekolahkan anak-anak asuhnya ke perguruan tinggi di Jawa, yang dinilainya lebih bermutu, meski dengan konsekuensi biayanya berlipat-lipat ketimbang menempuh pendidikan di Kupang. Dari 116 anak asuh saat ini, 18 di antaranya tengah bersekolah di Jakarta. Saat ini tercatat sejumlah penghuni panti telah meraih gelar sarjana dan bekerja di tempat yang layak. Sebutlah di antaranya, Gerson Mangi dan Sonya Ivoni Tanono, masing-masing lulusan kedokteran umum dan ilmu komputer yang diwisuda pada 2016 silam.

Mengolah tanah tandus

Tanah di NTT merupakan tanah bebatuan yang tandus. Saking tandusnya, Budi sampai berkelakar bahwa sebetulnya tanah di Kupang bukanlah tanah berbatuan, “Tapi batuan bertanah,” ucapnya berseloroh.

Toh kondisi menantang ini tidak membuatnya patah semangat, tapi justru memacu keyakinannya bahwa pasti ada jalan untuk mengatasi dan memanfaatkannya. “Semua itu ciptaan Tuhan, harus kita appreciate. Kita diberi Tuhan hardware dan software yang sempurna, ya gunakan dong,” ucapnya mengingatkan. Untungnya pula, meski dengan biaya tinggi, Budi memperoleh sumber air yang memadai sehingga bisa diharapkan dapat dimanfaatkan juga untuk pertanian.

Maka bersama penduduk dan penghuni panti, mereka bergotong-royong mengolah lahan berbatuan tersebut. Karena digali seberapa dalam pun tak ditemukan tanah untuk bercocok tanam, akhirnya diputuskan untuk bercocok tanam di atas bebatuan tadi. Caranya, tanah-tanah yang  diayak dan dikumpulkan dari bebatuan yang dipecahkan itu ditaburkan di atas lahan bebatuan, diberi pupuk kandang dan pupuk kompos. Pot-pot besar juga dijadikan media tanam.

Setelah didiamkan beberapa waktu, tanah itu pun menjadi lahan subur tempat tumbuhnya padi, sayur-mayur dan tumbuh-tumbuhan buah-buahan. Budi pun mengajak dan mengajari anak-anak asuh untuk bercocok-tanam, mulai dari mengenal pembenihan dan pembibitan, menanam, membuat pupuk, menyiram dan melakukan perawatan lainnya. Hasilnya, lahan pertanian mereka semakin berkembang, panen pun meningkat. Mereka bisa berswasembada beras, sayur-mayur dan buah-buahan. Bahkan mereka bisa menjualnya  ke daerah lain dan berbagi dengan masyarakat sekitar.

Dari sini Budi makinyakin bahwa bila mau berusaha keras, Tuhan akan memberikan jalan. Ia juga  menyadari betul bahwa kelangsungan pelayanan sosial  tidak bisa hanya mengandalkan donasi, sehingga diperlukan inovasi dan kerja keras untuk bisa mandiri. “Donasi itu semacam bonus saja,” kata Budi. Karena itulah ia selalu menekankan pentingnya kerja keras dan kemandirian pada anak asuhnya.

“Kami mengarahkan, membentuk mereka mencapai cita-cita atas kerja keras merka sendiri. Mau sekolah apa, ayo kerja keras sama-sama. Sehingga mereka dengan bangga bisa mengatakan, ‘O saya sekolah biaya diri sendiri’. Mereka tidak direndahkan sebagai peminta-minta, tapi mereka generasi bekerja,” ujar Budi.

Budi pun mengimpikan dapat membangun eco-village, sebuah pusat pertanian, perekonomian dan pendidikan yang diharapkan bisa membantu Kupang memaksimalkan sumber daya mereka agar bisa terbebas dari kemiskinan. Untuk itu ia sudah menyiapkan lahan 53 hektare di Desa Tesabela, sehingga kelak eco-village tersebut diberi nama Tesabea Eco-Village.

Usai berbagi pengalaman pada acara yang diselenggarakan BPIP itu, kepada wartawan Media Bhayangkara, Budi menyatakan tekadnya untuk seumur hidup mengabdikan diri bersama keluarganya di Kupang. “Ini perjuangan seumur hidup. Hati kami sudah di sana. Kami ingin melihat masyarakat Kupang bisa hidup lebih baik,” ucapnya, sungguh-sungguh.

Penulis: Taufik Alwie

article bottom ad