Home Bhinneka Ki Manteb Soedharsono: Bertekad Mendalang Seumur Hidup

Ki Manteb Soedharsono: Bertekad Mendalang Seumur Hidup

SHARE
Ki Manteb Soedharsono (kiri) berbincang dengan Plt. Kepala BPIP Prof. Hariyono. Foto: Taufik Alwie
article top ad

Di usianya yang beberapa hari lagi genap 71 tahun, Ki Manteb Soedharsono masih tampak gagah. Tubuh mungilnya masih berdiri tegak, langkahnya ringan, punggung sama sekali tidak bungkuk. Raut mukanya ceria, bicaranya berenergi, penuh canda-tawa pula. Kentara sekali dalang kondang itu sehat walafiat, segar bugar.

Apa rahasianya? Ternyata sederhana saja, setidaknya itu yang berlaku pada diri Ki Manteb. “Selalu berpikir positif, yakin dan optimis,” ucap Ki Manteb dalam perbincangan dengan wartawan Media Bhayangkara dan beberapa awak media lain di kediamannya di Kelurahan Doplang, Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, Selasa siang, 20 Agustus 2019. Saat itu, Ki Manteb sedang menunggu kedatangan  rombongan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang dipimpin Plt. Kepala BPIP, Prof. Hariyono.

article inline ad

Seniman yang dijuluki “Dalang Setan” itu lantas memberikan contoh kongkrit yang telah dilakoninya hampir seumur hidupnya. Misalnya, kalau mau tampil mendalang, maka pikirannya selalu diarahkan untuk yakin bahwa ia mampu melakoninya, tetap sehat dan bugar baik saat mendalang mau pun sesudahnya. “Saya ini sekarang masih rutin mendalang 10-20 kali sebulan,” kata dalang yang bersama 73 tokoh lainnya mendapat Apresiasi Prestasi Pancasila 2019 dari BPIP ini.  

Kemampuan dan ketahanannya mendalang yang luar biasa telah dibuktikannya tahun 2004 dengan mendalang nonstop selama 24 jam 28 menit tanpa istirahat. Saat itu Ki Manteb yang berusia 56 tahun memecahkan Rekor MURI. “Setelah mendalang seharian itu, saya sehat-sehat saja. Waktu itu malah sempat pidato segala,” tutur Ki Manteb.

Soal makanan, Ki Manteb tidak pernah berpantang. Apa saja dimakannya tanpa takut terserang masalah asam urat, kolestrol atau pun gula darah. Rokok pun dihisapnya nyaris tanpa jeda. Kuncinya, kata Ki Manteb, jangan berprasangka buruk terhadap apa yang dimakan itu. Kalau kita mau makan sesuatu, lanjutnya, lalu belum apa-apa sudah takut nanti sakit inilah sakit itulah, ya bisa sakit betulan jadinya.

“Makan ya makan sajalah,  nikmati, yakin bahwa makanan itu sehat bagi tubuh,” kata ayah enam anak itu sambil tertawa. Asalkan, katanya pula, jangan sampai berlebihan. “Saya ini rutin ke dokter, kata dokter tubuh saya sehat-sehat saja, ha ha ha..,” sambung lelaki tua ini, yang masih suka menunggang Kawasaki 250 CC, salah satu sepeda motor kesayangannya.

Menurut Ki Manteb, pekerjaan mendalang itu sesungguhnya sangat berat terutama secara fisik karena butuh stamina yang tangguh. Pasalnya, selama mendalang, seorang dalang harus duduk bersila, tanpa istirahat, bahkan buang air kecil pun tidak bisa.

“Coba, kalau fisik tidak sehat, kan tidak bisa,” kata dalang yang banyak menerima penghargaan, di antaranya Satya Lencana Kebudayaan (1995), Nikkei Asia Prize Award (2010), dan yang anyar berupa Apresiasi Prestasi Pancasila (2019).

Ki Manteb yang lahir di Sukohardjo, Jawa Tengah, 31 Agustus 1948, ini merupakan anak pertama seorang dalang cukup beken pula kala itu, Ki Hardjo Ibrahim. Sang ayah menginginkan anaknya kelak jadi dalang pula, sehingga sejak kecil diajaknya mendalang. Walhasil, Manteb kecil pun sudah mahir mendalang.

Ketika duduk di bangku STM, Manteb remaja sudah sering ditanggap orang sehingga sekolahnya pun putus. Kebetulan pula waktu itu sekolahnya bubar  menyusul tragedi 1965. “Saya nggak nyesel nggak tamat sekolah. Yang penting saya jadi dalang kondang, dibayar mahal, bisa berguna buat keluarga dan banyak orang,” ujarnya, lagi-lagi sambil terbahak.

Kepiawaiannya mendalang adalah juga berkat banyak belajar kepada dalang-dalang senior, seperti Ki Narto Sabdo pada 1972, dan Ki Sudarman Gondodarsono pada 1974. Gaya dalang sabet diwarisi Manteb dari Ki Sudarman, yang terus dikembangkan dan ditekuninya hingga kini. Gaya sabetnya makin ciamik lantaran ia banyak terinspirasi film kungfu yang dibintangi Bruce Lee dan Jackie Chen.

Menariknya pula, Ki Manteb tak segan berkreasi dan melanggar pakem, misalnya, menggunakan adegan flashback dan mengusung peralatan musik modern ke pentas, seperti biola, trompet, simbal dan tambur. Waktu itu sempat muncul kritik dari dalang senior, tapi ada pula yang mendukungnya. Dan Ki Manteb maju terus dengan inovasi-inovasinya hingga kini.

Sampai kapan akan terus mendalang, Pak Manteb? “Saya akan mendalang seumur hidup, selama saya sehat dan sanggup,” ucap Ki Manteb, mantap.

Penulis: Taufik Alwie

article bottom ad