Home Bhinneka BPIP Gelar Seminar Pancasila Serentak di 19 Titik

BPIP Gelar Seminar Pancasila Serentak di 19 Titik

SHARE
Seminar Pancasila di UNS Solo, 19 Agustus 2019. Foto: BPIP
article top ad

SOLO, MB-Seminar yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Senin, 19 Agustus 2019, sungguh patut diapresiasi. Betapa tidak, seminar sehari  mengusung nilai-nilai Pancasila tersebut menampilkan hampir 100 narasumber, yang berbicara di  13 titik di lingkungan Kampus Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo,  dan  6 titik di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta.

Inilah seminar terbesar, setidaknya dari segi jumlah narasumber, yang pernah diselenggarakan di Tanah Air. Hal ini pun diakui Plt. Kepala BPIP, Prof. Hariyono. “Mungkin ini yang pertama kali di Indonesia (seminar di 19 titik),” ujar Hariyono di Kampus UNS, sebelum seminar dimulai.

Seminar Pancasila di UNS Solo, 19 Agustus 2019. Foto: BPIP
article inline ad

Seminar akbar dengan tema “Pancasila Sebagai Platform Pembangunan Manusia dan Kebudayaan” ini merupakan bagian dari rangkaian acara pemberian Apresiasi Prestasi Pancasila kepada 74 tokoh yang juga menjadi narasumber pada seminar tersebut. Penganugrahan apresiasi itu sendiri digelar pada malam harinya yang dikemas dalam acara Konser Kebangsaan di auditorium bekas pabrik Gula Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah.  

Seminar yang pembukaannya dipusatkan di Auditorium UNS itu dibuka Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. Hadir dalam acara itu antara lain Anggota Dewan Pengarah BPIP, Sudhamek; Plt. Kepala BPIP Prof. Hariyono; Rektor UNS Prof. Jamal Wiwoho, dan Deputi Pengendalian dan Evaluasi BPIP, Rima Agristina.

Pada kesempatan itu, Yasin Maimoen membacakan sambutan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang berhalangan hadir. “Seminar ini dapat menjadi forum untuk saling sharing, sasarannya guna menyatukan bangsa,” demikian pesan Ganjar yang disampaikan Yasin Maimoen.

Menurut Ganjar dalam pesan tertulisnya itu, kondisi saat ini ada upaya untuk mengganggu Pancasila, dengan membangun intoleransi, ujaran kebencian, fitnah. Ada juga upaya memecah-belah kebhinekaan, politik uang, dan politik identitas. “Ini semua mengganggu kita dalam menegakkan persatuan bangsa,” Ganjar mengingatkan.

Ikon Prestasi Pancasila

Seminar itu boleh dibilang berlangsung sukses, diikuti banyak peserta dengan antusias. Selain menampilkan sekitar 20 pembicara dari jajaran BPIP, seminar menampilkan pembicara dari kalangan para penerima Apresiasi Prestasi Pancasila, yang lebih banyak bercerita pengalamannya yang inspiratif dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila, sehingga menarik disimak.

Seperti  diketahui, ke-74 Ikon Prestasi Pancasila 2019 tersebut   terpilih berdasarkan hasil pantauan dan seleksi ketat tim BPIP terhadap tokoh-tokoh atau komunitas  yang memiliki nilai tambah dalam kehidupannya, atau bernilai plus. Dalam proses ini, termasuk penyelenggaraan pemberian apresiasi nanti, tim BPIP bekerjasama dengan TVRI, Universitas Sebelas Maret, Pemprov Jawa Tengah, Pemkab Karang Anyar, Pemkot Solo, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Para nominator ini kemudian dijajarkan untuk dipilih yang paling menonjol dari kelompoknya, dan didapatlah angka 74 yang mengacu pada usia Kemerdekaan RI.  Penilaian terhadap para ikon Prestasi Pancasila yang rentang usianya 11-92 tahun tersebut adalah berdasarkan sumbangsih, tindakan, dan pengabdiannya kepada masyarakat, yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Ruang lingkupnya tidak hanya nasional, tapi juga internasional.

Para ikon terpilih dibagi dalam empat kategori, yaitu Sains & Inovasi (17 ikon), Olahraga (9 ikon), Seni Budaya & Bidang Kreatif (22 ikon), dan Social Enterpreneur (26 ikon). Sejumlah nama beken turut menghiasi, bahkan mendominasi, khususnya untuk kategori Seni Budaya & Bidang Kreatif. Sebutlah, di antaranya, musisi Iwan Fals, dalang Ki Manteb Soedharsono, Teater Koma, komedian kritis Butet Kertarajasa, penari serba bisa Didik Nini Towok, serta sineas muda Livi Zheng.

Sementara untuk kategori Olahraga, ada nama pelari Lalu Muhammad Zohri, juara catur dunia Irene Kharisma Sukandar, dan Samantha Edithso (pecatur cilik berusia 11 tahun, ikon termuda). Ada pun di bidang Social Enterpreneur, ada nama dokter dermawan Lo Siaw Ging, penggagas Sokola Rimba Butet Manurung, mantan pilot yang mengembangkan panti asuhan Budi Soehardi,  dan Prof. Saparinah Sadli (penggagas Komnas Perempuan dan inspirator dalam gerakan perempuan). Saparinah, 92 tahun, tercatat sebagai sosok tertua Ikon Prestasi Pancasila 2019.

Hariyono berharap, apresiasi terhadap ikon yang berprestasi di bidangnya masing-masing ini bisa menjadi bagian dari elevasi, yaitu mengangkat contoh-contoh positif di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.   

Penulis Taufik Alwie

article bottom ad