Home Bhinneka Tiga Syarat Utama untuk Generasi Milenial Jika Ingin Jadi Pemimpin Indonesia

Tiga Syarat Utama untuk Generasi Milenial Jika Ingin Jadi Pemimpin Indonesia

SHARE
Narasumber “BERSAMA MENYONGSONG MASA DEPAN INDONESIA” (ki-ka) : Alumnus Lemhannas PPSA XXI AM Putut Prabantoro (moderator), Nico Agus Putranto (Wakil Pemkot Surakarta), AKBP Ridho Wahyudi (Ketua BNNK Kota Surakarta), Brigjen TNI Herianto Syahputra (Kasgartap I/JKT), Prof DR. Jamal Wiwoho SH, Mhum (Rektor UNS), GKBRAA Paku Alam X (pelestari budaya), Aris Heru Utomo (Direktur Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila/BPIP) dalam konferensi pers di Auditorium UNS, Surakarta, Senin (01/07/2019)
article top ad

SURAKARTA, MB – Tiga syarat utama yang harus dipenuhi generasi milenial jika ingin menjadi pemimpin Indonesia di masa depan adalah, harus setia kepada Pancasila, cinta kepada bangsa dan negara (NKRI), dan bebas dari narkoba serta berbudaya Indonesia.  Ketiga syarat utama ini mencuat dalam konferensi pers, yang bertajuk “BERSAMA MENYONGSONG MASA DEPAN INDONESIA” yang diadakan di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Senin (01/07/2019).

Hadir dalam konferensi pers tersebut adalah Kasgartap I/Jakarta Brigjen TNI Herianto Syahputra, Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Kota Surakarta AKBP Ridho Wahyudi, Direktur Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Aris Heru Utomo, GKBRAA Paku Alam X (pelestari budaya batik), Rektur UNS Prof DR. Jamal Wiwoho SH, Mhum (Rektor UNS), Wakil dari Pemkot Surakarta Nico Agus Putranto. Acara dimoderatori Alumnus PPSA XXI, AM Putut Prabantoro, yang sekaligus Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa).

GKBRAA Paku Alam X setelah konferensi pers di Auditorium UNS, Surakarta , Senin (01/07/2019).
article inline ad

Menurut Aris Heru Utomo, dengan PerPres  No. 7  Tahun 2018, dibentuk BPIP, yang merupakan penyempurnaan dan revitalisasi organisasi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) yang dibentuk  pada Mei 2017. Tugas BPIP adalah menyemai nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada dimensi keyakinan, pengetahuan dan tindakan dengan semangat gotong royong, yang merupakan inti dari Pancasila.

“BPIP sangat mengapresiasi dan mendukung ide Brigjen TNI Herianto Syahputra, yang mengajak BPIP untuk menyiapkan calon pemimpin Indonesia di masa depan dengan mendukung PSM Voca Erudita menjadi Duta Generasi Milenial. Kita semua harus setia pada Pancasila sebagai falsafah hidup dan ideologi bangsa. Sangat tepat kita berangkat dari sini, karena UNS telah mendeklarasikan diri sebagai Kampus Benteng Pancasila dan sekaligus telah mengajarkan kembali mata kuliah Pancasila,” jelas Aris Heru Utomo.

Batik Budaya Bangsa

GKBRAA Paku Alam X menegaskan bahwa batik merupakan identitas bangsa dan kekayaan budaya bangsa.  Hampir semua daerah di Indonesia memiliki corak batik tersendiri yang diangkat dari budaya lokal. Generasi milenial harus memahami bahwa melestarikan nilai-nilai luhur dan budaya bangsa merupakan syarat yang untuk menjadi pemimpin Indonesia di masa depan. 

“Saya memberikan batik yang saya desain sendiri untuk digunakan Paduan Suara Voca Erudita, agar kalian senantiasa mengingat Indonesia dan menjaga nama baiknya di dunia internasional. Batik yang saya berikan bercorak Suryo Mularjo yakni salah satu dari delapan nilai luhur dari ajaran Astabrata yang menjadi karakter pemimpin bangsa. Saya melestarikan budaya  dan nilai-nilai luhur para pemimpin jaman dulu melalui media batik,” ujar GKBRAA Paku Alam X kepada PSM Voca Erudita yang hadir dalam konferensi pers itu.

Permaisuri dari KGPAA Paku Alam X ini menegaskan, batik hanya salah satu dari sekian banyak budaya bangsa yang harus dilestarikan. Calon pemimpin Indonesia masa depan adalah mereka yang mampu berbudaya luhur Indonesia dan sekaligus mampu melestarikannya. 

Sementara itu, AKBP Ridho Wahyudi menegaskan bahwa acara pada hari itu merupakan momen yang tepat untuk peduli terhadap para calon pemimpin Indonesia di masa mendatang lebih serius. Para pemimpin negara dan bangsa Indonesia harus bebas dan bersih dari narkoba.

“Acara hari ini sesuai dan merupakan respon positip atas pernyataan Presiden Joko Widodo yang menegaskan Indonesia darurat narkoba dan Solo tepat dijadikan tempat awal kepedulian terhadap generasi milenial mengingat Solo merupakan peringkat kedua setelah Semarang jumlah pengguna narkoba terbanyak. Bahkan, Jawa Tengah menduduki peringkat kelima jumlah provinsi pengguna narkoba terbanyak,” tegas Ridho Wahyudi.

Pada Senin kemarin dilakukan tes urine untuk 24 dari 40 anggota PSM yang hadir dalam acara konferensi pers tersebut dan semua dinyatakan bersih atau negatif dari narkoba. Sementara 16 anggota sisanya sedang melaksanakan tugas kuliah.

article bottom ad