Home Bhinneka Pancasila Harus Diindoktrinasikan Secara Elegan

Pancasila Harus Diindoktrinasikan Secara Elegan

SHARE
BPIP bersama sejumlah awak media.
article top ad

BEKASI, MB – Sebuah dialog menarik tentang Pancasila tersaji di Ruang Trendy, Harris Hotel and Convention, Bekasi, Jawa Barat, Jumat sore, 21 Juni 2019. Salah satu topik yang mengemuka dalam dialog bertajuk “Rapat Koordinasi dan Temu BPIP dengan Media Massa Dalam Rangka Bulan Pancasila 2019” itu adalah mengenai perlu tidaknya indoktrinasi Pancasila, termasuk di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi.

“Bahwa apakah Pancasila perlu indoktrinasi, jawabnya tegas: ya! Mengapa? Karena semua ideologi itu doktrin. Apa mungkin doktrin tanpa indoktrinasi?,” ucap Plt. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Hariyono, menjawab pertanyaan salah satu peserta dialog. Si penanya menyoal pentingnya Pancasila menjadi mata pelajaran dan mata kuliah wajib seperti di era Orde Baru,  dan bagimana menyiasatinya agar tidak menjadi indoktrinasi yang bisa berkonotasi negatif. Terlebih mengingat indoktrinasi Pancasila yang pernah ada selama ini  berlangsung di era Pemerintahan Orde Baru, yang kerap diidentikkan dengan pemerintahan otoriter. 

article inline ad

Menyangkut mata kuliah umum wajib di perguruan tinggi, Hariyono mengingatkan kembali bahwa hal itu sudah tertuang dalam amanah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Dalam Pasal 35 ayat 2, disebutkan bahwa kurikulum pendidikan tinggi  merupakan pedoman penyelenggaraan kegeiatan pembelajaran  untuk mencapai tujuan pendidikan tinggi wajib memuat mata kuliah: a. Agama; b. Pancasila; c. Kewarganegaraan; dan d. Bahasa Indonesia yang dilaksanakan melalui kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi  Mohammad Nasir bahkan menerbitkan Surat Edaran No. 03/M/SE/VIII/2017,   tentang Penguatan Pendidikan Pancasila dan Mata Kuliah Wajib Umum Pada Pendidikan Tinggi.

Distorsi pemahaman indoktrinasi

Hariyono  menepis kesan atau pun kekhawatiran kalau indoktrinasi akan berkonotasi negatif dan bersifat otoriter. Menurut Hariyono, kekhawatiran itu muncul atau pun menjadi masalah akibat adanya distorsi pemahaman bahwa indoktrinasi harus dilakukan secara otoriter. “Padahal indoktrinasi tidak harus otoriter, indoktrinasi Pancasila bisa dilakukan dengan elegan, dengan cara-cara yang mampu memberikan harapan,” kata Hariyono.

Sebagai ilustrasi, ia mencontohkan film Rambo, yang menonjolkan sosok hero Amerika Serikat yang berhasil membebaskan tawanan perang di Vietnam. Padahal, secara faktual, Amerika kalah dalam perang Vietnam.  Tapi, kata Hariyono, film itu sukses membangkitkan rasa bangga warga Amerika akan sosok pahlawan dalam film tersebut, juga rasa bangga akan negaranya yang adidaya.

Contoh lainnya, film kartun Kapten Tsubasa dari Jepang, yang menggambarkan pemuda Jepang yang jago main bola dan mengalahkan kesebelasan sejumlah negara ternama dalam persepakbolaan. Padahal waktu itu belum ada pemain bola dari Jepang yang punya nama. Imbasnya, semangat pemain bola Jepang pun bangkit, menguasai teknik dan pengetahuan sepak bola, dan akhirnya bisa tampil di ajang bergengsi dunia.

Dari contoh-contoh ini, Hariyono mengingatkan pula bahwa pesan Albert Einstein bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak ditentukan oleh data, tapi oleh imajinasi. Karena itu ia menyayangkan masih banyaknya warga negara yang seringkali takut berimajinasi. “Orang yang tidak punya imajinasi biasanya tidk punya cita-cita. Dan memang seringkali kalau ditanya cita-citanya, tidak jelas. Inilah tantangan kita,” kata Hariyono.

Terkait dengan media massa, Hariyono juga berharap nantinya para wartawan bisa menambahkan imajinasi-imajinasi positif dalam tulisannya, yang tentunya masih dalam kaidah prinsip-prinsip jurnalisitk.

Butuh masukan-masukan

Pada bagian lain dari dialog yang dipandu Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan BPIP, Aris Heru Utomo, S.H., M.B.A., M.Si., itu, Hariyono secara terbuka menyatakan menerima semua masukan-masukan dari peserta dialog, utamanya dari kalangan media massa. Ia mengakui, di era milenial saat ini upaya membumikan Pancasila tidak akan berhasil tanpa melibatkan peran media massa dan media sosial. Ia berharap dialog-dialog dan temu media seperti ini dapat berlangsung rutin dan lebih sering, dan semua masukan dapat menjadi bahan pertimbangan penting bagi BPIP dalam terus membumikan nilai-nilai Pancasila.

“Kita berharap pemahaman Pancasila tidak hanya berhenti dalam seremoni di ruang-ruang diskusi-diskusi, tapi bisa berlanjut dalam kehidupan sehari-hari dan selalu hidup dalam urat nadinya rakyat,” tandas Hariyono.

Usai menampilkan Prof. Hariyono sebagai pembicara utama, acara tersebut menampilkan pula Junanto Herdiawan, Kepala Grup Strategi dan Pengelolaan Komunikasi Departemen Komunikasi Bank Indonesia. Junanto memaparkan berbagai strategi penting dalam mengelola komunikasi.

Penulis: Taufik Alwie

article bottom ad