Home Bhinneka Tradisi Makan Bakcang dan Festival Perahu Naga: Simbol Kecintaan Seorang “Qu Yuan”...

Tradisi Makan Bakcang dan Festival Perahu Naga: Simbol Kecintaan Seorang “Qu Yuan” yang Mencintai Negerinya

SHARE
article top ad

Hari raya makan Bakcang dan Festival Perahu Naga (Peh Cun) yang jatuh pada hari 5 bulan 5 kalendar lunar atau penanggalan China tahun ini diperingati pada tanggal 7 Juni 2019.  Uniknya hari raya ini hampir bertepatan dengan acara Idul Fitri 1440 Hijriyah yang jatuh pada tanggal  4 Juni 2019.

Tradisi yang berasal dari China ini diperingati di banyak kota besar di Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu terutama di daerah  yang banyak dialiri sungai-sungai yang cukup besar seperti sungai Batanghari (Jambi),  Siak (Pekanbaru),  Musi (Palembang),  Mahakam (Samarinda) dan Tenggarong pada Festival Erau, Kapuas (Pontianak), Barito (Banjarmasin), Cisadane (Tangerang) atau di kepulauan yang mempunyai banyak selat seperti di Bau-Bau (Buton), Makasar, Kendari, Tanjung Pinang dan Batam (Riau) dan bahkan sampai ke Maluku (Bandaneira), Cilacap, Kepulauan Mentawai dan lain-lain.

article inline ad

Tahun ini kita bisa merasakan suasana pesta bakcang dan ketupat disantap bersamaan.  Karena yang merayakan Idul fitri biasanya membagikan ketupat kepada tetangganya yang tidak merayakan Lebaran dan sebaliknya keturunan Tionghoa membagikan bakcang kepada tetangganya yang non Tionghoa. 

 Festival Perahu Naga

Perayaan Peh Cun bukan sekedar tradisi makan Bakcang tetapi selalu disertai dengan  Festival perahu  naga .   Bagi penduduk Jakarta, perayaan lomba perahu naga lebih dikenal sebagai Lomba Perahu Naga Cisadane atau Festival Budaya Cisadane.

Perlombaan “dragon boat”  (Perahu Naga) ini dikenal juga dimancanegara antara lain  negara-negara Asia Timur seperti  China, Hongkong, Vietnam, Taiwan , dan Korea  bahkan kini telah menyebar ke negara lainnya seperti di Amerika Serikat, Australia, Eropa, Afrika, Karibia,  dan di Kanada (Vancouver, Toronto dan Ottawa) setiap tahunnya diselenggarakan perlombaan Dragon Boat  tahunan yang menarik ribuan pengunjung dan wisatawan untuk menyaksikannya.

 Menegakkan Telur

Fenomena menegakkan telur ayam dapat dilakukan pada saat perayaan Duan Wu (Peh Cun). Konon pada saat itu, kita dapat meletakkan/menegakkan telur ayam mentah dalam posisi berdiri di atas lantai atau meja. Ini bisa dilakukan di sepanjang hari Duan Wu; namun waktu yang tepat siang hari antara pukul 12:00-13:00.

Fenomena ini terjadi karena saat matahari memancarkan cahaya paling kuat, gaya gravitasi di tanggal ini adalah yang terlemah di sepanjang tahun sehingga menyebabkan telur ayam mentah bisa berdiri tegak; dimana saat ini matahari sedang berada di “posisi istimewanya”, yakni tepat di atas khatulistiwa.

Menurut mitos pengobatan China saat jam 12.00 pada tanggal 5 bulan 5 ini adalah saat yang paling tepat untuk meramu obat karena hawa Im (Bumi) dan Yang (Langit) sedang bertemu sempurna sehingga obat yang diramu pada saat ini akan memberikan khasiat kesembuhan yang luar biasa bagi yang membutuhkannya.

Peraayaan Bakcang dan Festival Perahu Naga sangat erat kaitannya dengan seorang tokoh sejarah bernama Qu Yuan (340 SM – 278 SM) ia merupakan Sarjana Patriotik yang juga seorang menteri dikerajaan Chu ( Zhou 周)  dari zaman Zhan Guo (kerajaan saling berperang).  Pada zaman itu terdapat  tujuh kerajaan yaitu Negeri Yan, Cee, Thio, Gwi, Han, Chou dan Qin.

Qu Yuan disukai Raja karena ia pandai bekerjasama  secara diplomatik dengan kerajaan lain demi melawan agresi Kerajaan Qin yang memiliki pemerintahan dan angkatan perang yang paling efisien tetapi sangat berambisi untuk menaklukan negeri-negeri yang lain satu persatu.

Tetapi kinerja Qu Yuan  yang baik sebagai seorang pejabat yang bersih dan sangat  mencintai tanah airnya tidak sukai oleh pejabat korup Le Shang dan komplotannya yang sangat berpengaruh pada masa itu, Sehingga suatu ketika Komplotan Le Shang memfitnah dan menjelekkan Qu Yuan di hadapan raja Chu (Chu Huai Wang), Sehingga raja murka dan membuang serta mengasingkan Qu Yuan.  Ia menerima keputusan raja dan  tetap setia dengan negaranya. Di pengasingan  ia mendengar ada rencana konspirasi jahat oleh Kerajaan Qin dan pejabat Kerajaan Chu  untuk membunuh raja.  Mendengar itu, ia kembali ke Kerajaan Chu untuk memperingatkan rajanya. Namun raja Chu Huai Wang sama sekali tidak mau mendengar omongannya.

Qu Yuan

Ia akhirnya terpaksa meninggalkan raja dan tidak lama kemudian Raja Chu terbunuh oleh konspirasi negara Qin.

Pembuangan kedua kalinya adalah ketika  raja baru Chu (Qin Xiang Wang) naik tahta, Qu Yuan lagi-lagi menjadi korban kejahatan komplotan Le Shang dengan menyebar tuduhan palsu dan memfitnah Qu Yuan.  Qu Yuan akhirnya diusir kedua kalinya keluar dari negerinya sendiri. Kali ini beliau tiba di Jiang Nan (wilayah selatan dari sungai Yangtse).

Di tengah pengasingan ia mendengar bahwa pasukan Qin menyerbu Ying (ibukota Chu) serta   mendengar penderitaan rakyatnya karena Invasi kerajaan Qin, kemudian ia menulis Syair Ratapan untuk Ying.

Sajaknya yang terkenal berjudul Li Sao 离 骚 (menanggung kepedihan) yang mencerminkan harapan yang sangat mulia dari sang penyair dalam mencari kebenaran dan keindahan.

Qu Yuan sebenarnya adalah seorang politikus ketimbang seorang penyair. Namun, kegagalannya dalam karier berpolitik membuat ia sangat kecewa. Karena ia sangat mencintai tanah air serta rakyatnya yang menderita, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa kepada negaranya, sehingga kekecewaan yang luar biasa itu, ia lampiaskan dalam karya syair, untuk menunjukkan kepada raja dan dunia bahwa ia sebenarnya adalah seorang yang jujur dan cinta tanah air.

Qu Yuan merasa sangat sedih untuk raja yang telah meninggal dan lebih sedih lagi untuk negeri dan rakyat yang sangat dicintainya.

Ungkapan yang sangat mendalam terungkap dalam sajak-sajaknya. Beberapa bait  kata-kata yang sangat menyentuh:

 Mengapa yang baik menderita ?

Mengapa yang jahat berjaya ?

Mengapa yang khianat mendapat kepercayaan ?

Mengapa yang penjilat justru mendapat hadiah ?

Mengapa yang setia justru dihempaskan ?

Mengapa yang jujur justru dihukum ?

Setelah menulis syair maka dengan rasa putus asa sembari memeluk batu besar Qu Yuan terjun dan tewas di sungai Mi Luo. Pada hari itu tepat adalah tanggal 5 bulan 5 menurut penanggalan tahun Imlek  bertepatan dengan hari bakcang tahun ini tanggal  7 Juni 2019.

Konon setelah Qu Yuan terjun ke dalam sungai, rakyat kerajaan Chu sangat berduka dan berbondong-bondong menuju ke sungai Mi Luo untuk melayat Qu Yuan.

Penduduk desa pun bersama-sama  menggunakan perahu mencari jasadnya di sungai tetapi tidak pernah menemukannya. Mereka mendayung perahu sambil memukul tambur untuk menakuti-nakuti ikan dan roh-roh jahat agar tidak memakan tubuh Qu Yuan.

Peristiwa bunuh  diri Qu Yuan tersebut ia lakukan sebagai bentuk protes terhadap pejabat yang korup dan para pengkhianat negara yang  menyebabkan jatuhnya Kerajaan Chu.

Setiap Tahun penduduk desa menggunakan perahu beramai-ramai melakukan peringatan atas kematian Qu Yuan  yang dianggap sebagai pahlawan dan melakukan persembahan dengan melempar makanan kesungai. Tetapi  mereka melihat semua persembahan makanan habis di makan ikan dan udang sebelum mencapai dasar sungai.

Akhirnya penduduk desa sepakat untuk membungkus nasinya dengan daun bambu yang diikat tali dan bersegi 4  seperti yang sekarang kita kenal dengan sebutan bakcang untuk di lempar di sungai Mi Luo menggunakan perahu  sebagai persembahan kepada Qu Yuan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek sebagai peringatan hari kematian Qu Yuan.

Makna perayaan Bakcang dan Festival perahu naga adalah simbol perlawanan terhadap korupsi dan rasa cinta tanah air yg mendalam dari seorang Qu Yuan dan semoga bisa menginspirasi bangsa Indonesia untuk terus mencintai tanah airnya dan memerangi korupsi di negeri ini bukan hanya sekedar seremoni makan bakcang dan menonton perlombaan perahu naga.

Penulis : Indra

.

article bottom ad