Home Bhinneka Indonesia Butuh Pemimpin Pancasilais menuju Mercusuar Dunia

Indonesia Butuh Pemimpin Pancasilais menuju Mercusuar Dunia

SHARE
article top ad

Pasti sebagian di antara kita sudah tahu Pancasila. Yakni lima dasar hidup yang mengatur kita di dalam berbangsa dan bernegara.  Pancasila adalah kesepakatan bersama di rumah Indonesia yang merupakan hadiah sangat berharga yang diberikan oleh pendiri bangsa Indonesia ini pada 1 Juni 1945 atau beberapa hari sebelum bangsa ini menyatakan kemerdekaannya 17 Agustus 1945.

Sejak SD bahkan TK kita sudah hafal akan sila-sila Pancasila yaitu: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa; 2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab; 3. Persatuan Indonesia; 4. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan; dan 5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.  Akan tetapi bukan tidak mungkin kita masih sering memperdebatkan mengenai Pancasila bahkan tidak sedikit yang menggugat ideologi Pancasila karena sudah tidak sesuai lagi untuk bangsa Indonesia.

article inline ad

Sebagai perbandingan kita bisa memahami apa pengertian dari Pancasila menurut para tokoh-tokoh nasional berikut :

1. Menurut Ir. Soekarno: Pancasila adalah, isi dari jiwa bangsa Indonesia yang telah turun temurun dan sudah berabad-abad lamanya terpendam dengan bisu dalam kebudayaan barat. Dengan demikian Pancasila bukan hanya sekadar falsafah di dalam negara kita, tetapi maknanya lebih luas lagi yaitu falsafah dari bangsa Indonesia.

2. Menurut Notonegoro: Pancasila ini adalah dasar falsafah dan juga ideologi negara yang diharapkan akan menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila berfungsi sebagai dasar pemersatu bangsa Indonesia, lambang dari persatuan dan kesatuan dan sebagai pertahanan dari bangsa dan negara Indonesia.

3. Menurut Muhammad Yamin: Pancasila terdiri dari kata panca yang berarti lima, dan sila yang berarti sendi atas dasar atau peraturan tingkah laku yang penting dan juga baik. Maka dari itu Pancasila menjadi  5 (Lima) dasar yang isinya adalah pedoman atau pun aturan tentang tingkah laku (moralitas)  yang penting dan juga baik.

Presiden Jokowi melalui Keputusan Presiden  No.24 tahun 2016 telah  menetapkan  bahwa tanggal  1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila sekaligus sebagai Hari Libur Nasional  tidak akan bermakna banyak apabila tak diikuti dengan Gerakan Nasional  dalam mengamalkan 45 butir Pancasila sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara sehari-hari.

Orang-orang yang mengamalkan 45 butir Pancasila dalam kehidupannya sehari-hari baik sebagai pemimpin, sebagai aparatur sipil Negara (ASN), TNI-Polri, pegawai badan usaha milik Negara (BUMN), guru, dosen atau sebagai masyarakat biasa layak disebut Pancasilais.  Pancasilais adalah penganut ideologi Pancasila yang baik dan setia.

Refleksi Kebangsaan

Melihat proses politik Pilpres dan Pileg 2019 yang telah kita saksikan bersama dan narasi-narasi yang dibangun oleh masing-masing pihak khususnya pendukung Presiden Jokowi dan pendukung Presiden Prabowo ada hal yang sangat merisaukan kita semua.

Apakah pemilu kita sudah terlaksana berdasarkan semangat dan jiwa Pancasila? Menurut hemat saya demokrasi Pancasila yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa belum berjalan dengan baik dan bahkan bisa dikatakan menyimpang menjadi demokrasi liberal melalui mekanisme One man one vote.

Proses kampanye politik yang menggunakan Strategi 3H (Halal, Haram, Hantam), mempolitisir isu agama, suku dan golongan (SARA), berita hoax atau berita bohong yang sengaja dibuat dengan tujuan jahat, semua dipraktekkan demi kemenangan.  Keadaan ini menurut saya jauh lebih buruk daripada strategi penjajah yang memecah belah (devide et impera).

Pertandingan dalam pesta demokrasi yang seharusnya berjalan fair and sportif  berubah menjadi pertempuran yang dilandasi dendam dan permusuhan tidak berujung  serta diiringi ujaran-ujaran kebencian.

Saya coba membandingkan Demokrasi Liberal di Amerika.  Pertarungan pidato dan narasi yang dikenal sangat bebas ternyata hanya terbatas pada pengggunaan negatif campaign dan black campaign saja.  Tidak ada ujaran kebencian apalagi perbedaan idelogi sebagaimana terjadi pada Pesta Demokrasi Indonesia 2019.  Kita merasakan adanya pertaruhan ideologi dan ancaman keutuhan bangsa dikarenakan munculnya pertentangan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa Indonesia yang terkenal rukun damai, musyawarah,  tenggang rasa dan bergotong royong yang sudah terjalin selama berabad-abad.

Oleh karena itu, tugas berat Partai Politik dan bangsa ini adalah membenahi sistem demokrasi  Indonesia yang sudah menyimpang ke arah demokrasi liberal (one man one vote) agar kembali kepada sistem Demokrasi Pancasila sehingga bisa menghasilkan pemimpin yang berjiwa Pancasilais.  Pemimpin yang bisa mengamalkan 45 butir Pancasila dalam praktek kehidupan sehari-hari.

Di masa mendatang, sudah selayaknya calon kepala daerah mulai dari tingkat  kabupaten, propinsi  sampai nasional tidak cukup hanya menyandang popularitas, pandai dan sukses dalam bidang tertentu, tetapi lebih dari itu harus berjiwa Pancasilais sebagaimana termaktub dalam butir 1 dalam sila ke 3: Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Orang yang berjiwa Pancasilais berarti menolak melakukan Praktek KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme ) karena bertentangan dengan butir-butir pada sila ke-5 dalam Pancasila.  Sebaliknya mereka suka bekerja keras, bersikap adil, tidak boros dan tidak bergaya hidup mewah, serta tidak merugikan kepentingan umum.

Pancasila bukanlah agama yang terkait dengan dosa dan akherat.  Akan tetapi menjalankan 45 butir Pancasila tak ubahnya  seperti menjalankan perintah agama.  Pancasila tidak bertentangan dengan kebenaran-kebenaran agama.  Pancasila adalah solusi keberagaman, Pancasila membuat perbedaan menjadi indah, Pancasila membuat persamaan menjadi damai.  Berbeda-beda tetapi satu tujuan itulah Bhinneka Tunggal Ika.

Mengapa Indonesia butuh pemimpin yang berjiwa Pancasilais? Karena dari 34 Gubernur dan 416 Bupati serta 98 Walikota yang sekarang memimpin di Indonesia  masih banyak yang tidak mempraktekkan butir-butir Pancasila dalam kehidupan mereka sehari-hari, Mereka masih menjabat dan memerintah di atas kepentingan pribadi dan golongannya masing-masing.

Semoga kedepannya para pemimpin tidak lupa bahwa mereka lahir dan hidup di bumi Pancasila sehingga mereka harus bertingkah laku sesuai dengan butir-butir Pancasila dalam menjalankan kepemimpinannya.

Pemimpin adalah tuntunan dan teladan bagi rakyatnya.  Ing ngarso sung tulodo, (bila)  pemimpin memberi teladan, maka rakyatnya akan mengikuti dari belakang (Tut wuri handayani).

Saya berkeyakinan Indonesia akan Maju dan Jaya menjadi mercusuar dunia jika dipimpin oleh seorang Pancasilais sejati.

Selamat Hari Lahirnya Pancasila semoga dengan  bertambahnya usia semakin kuat, semakin dicintai dan semakin Jaya. 1 Juni 1945 – 1 Juni 2019.

INDRA

article bottom ad