Home Bhinneka Sosialisasi Pancasila di Tulang Bawang : Pancasila Pijakan Utama Semua Aspek Kehidupan...

Sosialisasi Pancasila di Tulang Bawang : Pancasila Pijakan Utama Semua Aspek Kehidupan Bermasyarakat

SHARE
article top ad

Tulang Bawang, MB – Pemandangan lain dari biasa tampak mencolok di Water Boom Tirta Garden di Desa Penawar Rejo, Kecamatan Banjar Margo, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung, Kamis , 4 April 2019. Hari itu, dari pagi hingga siang, arena rekreasi air  tersebut didominasi acara sosialisasi Pancasila yang digelar  Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bekerjasama dengan Komisi II DPR RI. Praktis, dialog terkait upaya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila pun bergema di situ, yang disimak dengan antusias oleh seratusan warga, sebagian di antaranya merupakan pengurus dan anggota Gerakan Nasional Anti-Narkotika (Granat) setempat.

Acara sosialisasi Pancasila dengan tema “Menggali Mutiara Pancasila dan Semangat Gotong Royong” itu menampilkan dua pembicara, yakni Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan BPIP, Aris Heru Utomo, S.H., M.B.A., M.Si., dan anggota KOMISI II DPR RI Fraksi PDI Perjuangan yang juga Ketua Umum Granat, H. KRH. Henry Yosodiningrat, S.H., M.H. Sosialisasi ini merupakan salah satu program penting BPIP yang akan menjangkau 100 titik di 34 provinsi di Tanah Air. Saat ini, program sosialisasi sudah berjalan sekitar 25%.

article inline ad

Aris Heru Utomo yang tampil sesi pertama pada acara yang juga dihadiri anggota DPRD Tulang Bawang Bambang Semedi tersebut, mengingatkan kembali bahwa sebagai dasar negara, Pancasila merupakan pijakan paling utama dalam semua aspek kehidupan bermasyarakat. Terjaganya persatuan bangsa Indonesia hanya bisa terwujud selama Pancasila masih menjadi landasannya. “Pancasila menjadi kesadaran filsafat hukum dan sumber kesadaran berbangsa dan bernegara. Pancasila itu ideologi yang mempersatukan,” ucap Aris.

Ia mencontohkan beberapa negara yang pecah karena tidak mempunyai  ideologi yang mempersatukan.  Seperti, Uni Soviet yang runtuh, Yugoslavia yang bubar, serta India yang terpecah menjadi tiga, yaitu Bangladesh, Pakistan, dan India sendiri.  Padahal, negara-negara tersebut relatif terdiri dari sedikit  suku dan agama. Berbeda dengan Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan berbagai agama serta adat-istiadat, tapi tetap dapat bersatu.

Namun Aris mengingatkan pula, di tengah era keterbukaan informasi  saat ini, bahaya radikalisme dan perpecahan terus mengintai generasi muda Indonesia. Minimnya pemahaman terhadap Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara, membuat generasi muda rentan dipecah-belah.  Apalagi, kata Aris mengutip survei LSI tahun 2018, masyarakat yang mendukung Pancasila terus menurun.

Tahun 2005 tercatat 85,2%, merosot menjadi 75,3% di tahun 2018. Artinya, sekitar 25% yang tidak mendukung Pancasila. “Jumlah ini cukup besar, sekitar 60 juta orang. Artinya ada 60 juta orang yang berpotensi tidak mendukung Pancasila. Ini sangat berbahaya kalau kita tidak melakukan tindakan-tindakan untuk mengenalkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kita,” kata Aris.

Menurut Aris, pembumian Pancasila, atau pengarus-utamaan Pancasila, yakni upaya untuk menghadirkan nilai-nilai dan keutamaan Pancasila dalam praksis keseharian, masih menjadi tantangan utama hingga kini, yang harus segera disikapi dan dijawab. “Tentu saja ini tidak hanya menjadi urgensi bagi BPIP, tetapi juga bagi semua pihak terutama yang merasakan kegelisahan serupa untuk turut ambil bagian di dalam masyarakat yang begitu beragam,” imbuhnya.

Pada bagian lain Aris memaparkan bahwa pengamalan nilai-nilai Pancasila, seperti semangat bergotong-royong, telah lama tumbuh di masyarakat dan menjadi budaya Nusantara. Sebutlah, misalnya Gugur Gunung di Yogyakarta, Sambalan di pesisir timur Jawa, Song-Osong Lombhung di Madura, Ngayah di Bali Helem Foi Kenambai Umbai di Papua, Bari di Ternate, Maluku Utara, serta Amossi di Sulawesi Selatan. Tak ketinggalan budaya gotong royong di Lampung seperti  Nugal atau Najuk, dan Tatikolan. “Budaya gotong royong ini harus kita jaga dan kembangkan,” kata Aris.

Pancasila kristalisasi jiwa bangsa Indonesia

Henry Yosodiningrat yang tampil pada sesi kedua, di awal paparannya mengatakan bahwa Pancasila merupakan anugrah dari Allah SWT kepada bangsa Indonesia. “Kalau kita tidak mempunyai Pancasila, sudah lama negara ini bubar seperti banyak contoh yang terjadi pada negara-negara lain,” ucapnya.

Ia mengingatkan pula bahwa Pancasila merupakan  kristalisasi dari jiwa bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, Pancasila tidak bisa diubah dengan ideologi lain.  Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara bersifat tetap, kuat, dan tidak dapat diubah oleh siapa pun, termasuk oleh MPR-DPR hasil pemilihan umum. “Mengubah Pancasila berarti membubarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Henry.

Henry yang mengantongi sertifikat Manggala BP7 (Penatar Tingkat Nasional P4) di era Orde Baru ini menjelaskan, Pancasila dengan nilai-nilai luhur di dalamnya yang digali dari Bumi Nusantara sudah sejalan dengan Al-Quran,  juga agama-agama lain.  Maka, tegas Henry lagi,  sebagai bangsa Indonesia  sudah barang tentu kita menolak segala upaya untuk menggantikan Pancasila sebagai Dasar Negara NKRI. “Jadi kalau ada wacana untuk mengubah Pancasila,  saya adalah orang  terdepan yang akan menentangnya,” ucapnya, tegas.

Penulis: Taufik Alwie

article bottom ad