Home Bhinneka BPIP Menggelar Dialog Membentuk Komunitas Gen.I

BPIP Menggelar Dialog Membentuk Komunitas Gen.I

SHARE
article top ad

Bandung, MB : Diskusi itu mulai mengerucut, kendati belum begitu fokus menghasilkan simpulan-simpulan yang solid. Namun segenap pemikiran-pemikiran yang dihasilkan dari perdebatan cukup alot tersebut, yang dituangkan dalam butir-butir simpulan sementara, sungguh patut diapresiasi. Secara keseluruhan mencerminkan tekad yang kuat untuk bersama-sama membumikan Pancasila, melalui penebaran atau penularan praktik-praktik kebaikan yang merupakan intisari nilai-nilai Pancasila, ke segenap lapisan masyarakat.

Begitulah hasil sementara Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Kedeputian Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Hotel  El Royale, Bandung, Senin, 25 Maret 2019. FGD bertajuk “Dialog untuk Membentuk Komunitas Gen.I” itu menampilkan para pembicaradari 11 komunitas  dari beberapa daerah. Diskusi atau dialog tersebut dibuka Direktur Pembudayaan BPIP, Irene Camelyn Sinaga, M.Pd., didampingi Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan BPIP, Aris Heru Utomo, S.H., M.B.A., M.Si.

article inline ad

Beberapa poin simpulan sementara dalam diskusi itu yang patut digaris-bawahi, di antaranya mengenai perlunya icon atau mascot untuk merepresentasikan upaya pembumian Pancasila, dengan lebih dulu menentukan sasaran audiensnya.  Ada juga simpulan sementara yang menyebut bahwa cerita Pancasila itu milik kita semua, yang menjadi narasi keberagaman yang bisa diangkat. Selain mempublikasikan kisah praktik kebaikan masing-masing, juga bisa saling menggali satu sama lain dengan hastag #praktikbaik, atau #ceritapancasila.  Serta beberapa simpulan sementara  lainnya yang tak kalah penting.

Dan Irene mencatat semua simpulan sementara itu.  “Ada lima tematik yang  muncul: narasi besar, legalitas, penguatan komunitas, catatan praktik baik, dan susur kampung.  Masing-masing membutuhkan suatu grouping atau gugus kerja,” kata Irene.

Rencananya, FGD akan dilanjutkan pada 6-7 April mendatang untuk mematangkan simpulan-simpulan sementara tadi, yang masih bersifat usulan, guna mendapatkan butir-butir kesepakatan bersama yang final. FGD lanjutan ini akan digelar di Hotel Hermitage, Jalan Cilacap, Menteng, Jakarta Pusat.  “Mungkin nantinya hasil dialog ini dapat kita sebut Kesepakatan Cilacap, atau Kesepakatan Menteng, seperti itu,” ujar Irene dengan nada ceria ketika menutup diskusi tersebut.

Irene memang patut gembira. Pasalnya, diskusi yang berlangsung hingga hampir tengah malam tersebut, meski diwarnai perdebatan alot namun terasa rileks, penuh canda tawa.  Suasana pun jadi lebih cair, gagasan-gagasan segar mengalir. Dalam diskusi yang dipandu Andar Manik (Jendela Ide) itu,  para pegiat komunitas—yang biasanya kurang peduli dengan pemerintah–dapat mengakomodir, atau paling tidak, dapat menghargai sekaligus merespon gagasan atau pun goal yang ingin dicapai BPIP bersama-sama komunitas. Apalagi, Irene sebagai pejabat BPIP tampil dengan gayanya yang santun, hangat, dan penuh humor.

Acara dimulai dengan perkenalan masing-masing peserta, yang dilanjutkan dengan pemaparan gagasan-gagasan. Boleh dibilang para pegiat komunitas yang menjadi peserta diskusi ini semuanya sudah punya nama beken, menasional, atau setidaknya terkenal di lingkup daerah dan jaringan komunitasnya. Beberapa di antaranya, sebutlah Rahmat Jabaril (Kampung Kreatif), Marintan Sirait (Jendela Ide, Rumpun Indonesia), Hafez Gumay (Koalisi Seni Indonesia), Sely Martini (AKATIGA), Sandyakala Ning Tyas (Jabar Peduli), dan Ai Nurhidayat (Yayasan Darma Bakti Pangandaran, pengelola Sekolah Multikulutral).

Lalu ada pula Etit Gartiah (Konsorsium Komunitas Festival Anti-Korupsi 2015), Grace Tobing (Digital Agency), Mark Ufie (Ambon Bergerak), blogger Kerric dan Ira Hairida (keduanya dari Forum Pesona Sriwijaya), dan Pitra Moeis. Menariknya, ada pula pegiat komunitas yang berasal dari ASN, yaitu Paramiswari dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, serta Idfi Septiani, Sekretaris Kecamatan di Samarinda.

Jelaslah mereka sudah lama berkecimpung dalam praktik-praktik  kebaikan, yang merupakan intisari dari pengamalan nilai-nilai Pancasila. Jadi, sangat relevan mereka dilibatkan dalam diskusi yang digelar BPIP ini. Dalam diskusi itu, mereka dengan cermat dan terstruktur menyampaikan pengalaman, pemikiran dan gagasan-gagasan, termasuk pula cermat dalam adu argumen.

Walhasil, simpulan-simpulan sementara yang dihasilkan cukup bernas, tinggal dibahas sekali lagi untuk kemudian dapat dikemas sebagai kesimpulan bersama, yang menjadi modal dasar berkolaborasi dalam membumikan Pancasila ke segenap lapisan masyarakat.

Penulis : Taufik Alwie

article bottom ad