Home Abinawa Kuliah Umum Romo Benny Susetyo Di IPDN: Pamong Praja Harus Profesional, Berintegritas,...

Kuliah Umum Romo Benny Susetyo Di IPDN: Pamong Praja Harus Profesional, Berintegritas, Mengutamakan Publik

SHARE
article top ad

Sumedang, MB  – Sebuah wejangan bernada keras, disampaikan dengan intonasi keras pula dalam gaya orasiberapi-api, tersaji di Balairung Rudini, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Selasa siang, 26 Maret 2019.  Tak ayal, sebanyak 3.700praja IPDN menyimak dengan serius. Bahkan tidak jarang para calon pamong praja itu tersentak dengan muka merah karena nuraninya disentuh sedemikian rupa oleh rangkaian kalimat menyentak dalam kuliah umum yang disampaikan Romo Antonius Benny Susetyo tersebut.

Hari itu, di hadapan para praja IPDN, Romo Benny selaku Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyampaikan kuliah umum berjudul “Tantangan Membumikan Pancasila”.  Acara yang diselenggarakan Kedeputian Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP ini dihadiri Wakil Rektor III Dr. Hyronimus Rowa, M.Si. dan segenap unsur IPDN. Dari pihak BPIP, turut hadir Direktur Pembudayaan Irene Camelyn Sinaga, M.Pd., dan Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan, Aris Heru Utomo, S.H., M.B.A., M.Si.

article inline ad

Romo Benny bicara penuh energi dengan kalimat yang terstruktur sehingga pesannya dapat ditangkap dengan jelas oleh audiensnya. Romo Benny meminta para praja IPDN untuk senantiasa menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sejak pendidikan hingga nanti bertugas sebagai Pamong Praja. Ia mengingatkan bahwa Pancasila tidak sekadar pedoman dan arah, tapi merupakan ideologi bangsa, ideologi bersama, yang menjadi rumah bersama untuk selamanya, yang menyatukan bangsa kita.

“Kita patut bersyukur karena memiliki Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara yang mampu mempersatukan Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote. Pancasila adalah rumah kita, rumah untuk kita semua selamanya dan nilai dasar Indonesia,” tegas Romo Benny.

Ia lantas memberi contoh beberapa negara, yang meski terdiri dari sedikit suku, namun tidak dapat mempertahankan persatuannya. Di antaranya, Afganistan yang terus bergejolak sampai sekarang, Uni Soviet yang runtuh, serta India yang terpecah menjadi tiga, yaitu Bangladesh, Pakistan, dan India sendiri.

Harus aktualisasikan Pancasila

Di bagian lain, Romo Benny mulai menohok nurani para praja IPDN. “Anda-anda ini calon pejabat negara, abdi negara, Andalah yang sebenarnya harus mengaktualisasikan Pancasila sebagai rumah kita,” kata Romo. Ia mengingatkan pula, jika perilaku aparat sipil tidak Pancasilais, rumah kita itu bisa hancur. Kalau jiwa tidak Pancasilais, negara akan rusak. Pamong praja harus berpegang teguh pada kejujuran, integritas, dan pelayanan. “Kalau Anda (kelak setelah jadi pamong praja) bukan jadi pelayan masyarakat, itu tidak Pancasilais,” tegasnya, yang disambut tepuk tangan hadirin.

Ia menambahkan, pamong praja sebagai abdi rakyat harus profesional, berintegritas, dan mengedepankan keutamaan publik. Dalam melayani, tidak boleh pilih kasih atau diskriminatif. Tidak boleh membeda-bedakan suku dan etnis, semua masyarakat dari mana pun asalnya harus dilayani dengan adil. Sebagai Pancasilais di garda terdepan di tingkat kelurahan, kecamatan, dan kota/kabupaten, pamong praja tidak boleh membuat peraturan diskriminatif dan bertentangan dengan Pancasila. “Tidak boleh ada aturan yang akan menghambat masyarakat bertemu dengan Anda (kelak sebagai pamong praja),” katanya dengan suara tinggi.

Romo Benny memberi contoh nyata Presiden Joko Widodo yang telah mengaktualisasikan nilai Pancasila, khususnya sila ke-3 dan ke-5, yaitu Persatuan Indonesia, dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. “Presiden mengaktualisasikan Pancasila, yaitu sila ke-3 dan ke-5, dengan membangun infrastruktur di luar Jawa. Di sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Papua,” beber Romo Benny.

Ia menyebut, kalau orientasinya politik, membangun luar Jawa, apalagi Papua, tidak begitu menguntungkan karena penduduknya sedikit. Kalau dalam kalkulasi politik, lebih baik Presiden fokus membangun Jawa, karena Pilpres sebetulnya ditentukan di Jawa. “Pegang Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, sudah menang,” imbuhnya.Namun, katanya pula, Presiden lebih mengutamakan aktualisasi Pancasila, khususnya sila ke-3 dan ke-5.

“Persatuan itu komunitas imajiner. Kita kan belum tahu wilayah Indonesia semuanya. Belum ada yang pernah mengunjungi semua daerah-daerah di Indonesia. Kenapa kita mau bersatu? Karena imajinasi kita bersatu dengan yang lain ingin ciptakan persatuan. Dan persatuan itu diwujudkan Presiden Joko Widodo dengan kerja, kerja, kerja, membangun infrastruktur sampai Papua,” papar Romo Benny.

Ia menegaskan bahwa tugas pamong praja pula untuk menjaga persatuan dan mewujudkan keadilan. “Kalau tidak bisa, itu namanya goblok permanen,” ucapnya, membuat para praja tersentak. “Itu yang terjadi sekarang. Terjadi gejala disintegrasi bangsa karena saling olok-olok, saling bully, karena tidak mencintai persatuan dan keadilan. Yang dipersoalkan yang remeh-temeh, bukan bagaimana bekerja,” tukas Romo Benny.

Romo Benny minta para praja belajar bersungguh-sungguh, karena mereka sekolah dibiayai uang pajak rakyat. “Kalau malas, studi asal-asalan, di asrama sering ngilang, tidak tertib, berarti mengkhianati rakyat. Itu dosa permanen,” ucapnya, membuat sebagian praja tersentak dengan muka merah.

Dan setelah kelak lulus, kata Romo Benny, jadilah pamong praja yang well-inform, menguasai TI dan membangun jaringan, serta memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Dan yang paling penting, Romo mengingatkan pula, pamong praja harus berintegritas, tidak mau disuap atau didikte oleh kepentingan siapa pun. “Maka goreskan di hatimu dan nuranimu bahwa engkau pelayan rakyat, bukan pelayan cukong atau orang yang membeli kamu, karena kedaulatan itu di tangan rakyat,” tegas Romo Benny, yang lagi-lagi membuat praja tersentak.

Kuliah umum yang disampaikan Romo Benny ini disambut baik oleh Wakil Rektor III IPDN, Hyronimus Rowa. “Bagus sekali materinya, mengangkat Pancasila dari perspektif sejarah, masa kini, dan   dikaitkan dengan pamong praja ke depan, bagaimana pamong praja menjadi Pancasilais. Intinya sangat bermakna. Mudah-mudahan spirit materi yang disampaikan itu, ditambah bekal pendidikan di sini, mereka akan mempunyai filter, daya tangkal dan kemampuan untuk mengontrol diri terhadap semua godaan yang masuk,” ucap Hyronimus.

Testimoni praktik baik

Sebelum kuliah umum yang disampaikan Romo Benny, pada kesempatan itu disajikan praktik baik yang disampaikan oleh sejumlah pegiat komunitas di daerah, seperti blogger Kerrick dan Ira Harida dari Forum Pesona Sriwijaya, Palembang. Juga ditampilkan pengalaman dari ASN, seperti Paramiswari dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, serta Idfi Septiani, Sekretaris Kecamatan di Samarinda. Testimoni praktik baik bagaimana menebar kebaikan bagi masyarakat ini dipandu oleh Direktur Pembudayaan BPIP, Irene Camelyn Sinaga.

Sementara itu, usai Romo Benny memberikan kuliah umum, dilanjutkan dengan paparan dari  Grace Tobing (CEO Digital Agency) dan Mark Ufie dari “Ambon Bergerak”. Mereka intinya memyampaikan bahwa di era digital dewasa ini, peran media sosial sangat penting dalam mendorong perubahan sikap di birokrasi pemerintahan sehingga lebih peduli pada kepentingan masyarakat.

Menutup kegiatan di IPDN ini, Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan BPIP, Aris Heru Utomo mengingatkan mengenai dampak buruk dari berita bohong atau hoaks yang tersebar di media sosial. “Jika penyebaran hoaks tidak segera dicegah dan dihentikan, maka akan dapat memunculkan konflik di masyarakat dan memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” ucap Aris.

Penulis: Taufik Alwie

article bottom ad