Home Bhinneka Wawancara Plt. Kepala BPIP, Prof. Hariyono: Bagaimana Pancasila Menjadi Landasan Kehidupan...

Wawancara Plt. Kepala BPIP, Prof. Hariyono: Bagaimana Pancasila Menjadi Landasan Kehidupan Bangsa dan Negara

SHARE
Plt. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Hariyono banyak diwarnai kunjungan ke kampung-kampung yang telah mengamalkan nilai-nilai Pancasila
article top ad

Malang, MB — Sepanjang pekan lalu, aktivitas Plt. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Hariyono banyak diwarnai kunjungan ke kampung-kampung yang telah mengamalkan nilai-nilai Pancasila.  Pada Kamis (14/2), mengunjungi tiga “kampung Pancasila” di Karawaci, Tangerang, Banten. Yaitu, Kampung Hidroponik di Kelurahan Cimone, Kampung Gerendeng Pulo di Kelurahan Gerendeng, dan Kampung Markisa di Kelurahan Pasar Baru.

Lalu, beberapa hari berselang, pada Ahad dan Senin (17-18 Februari), lanjut menyambangi enam “kampung Pancasila” di Malang, Jawa Timur. Yaitu, Kampung Budaya Polowijen, Kampung Tunggulwulung, Kampung Cempluk, Kampung Tani di Batu,  Kampung Jabung, serta Kampung Gondowangi.

article inline ad

Di kampung-kampung  tersebut, Hariyono menggelar dialog dengan tokoh dan warga setempat, sekaligus menggali nilai-nilai Pancasila yang telah tumbuh di sana. Dialog berlangsung hangat, berbobot, namun dalam suasana cair. Maklum, mantan Wakil Rektor Universitas Negeri Malang ini sangat menguasai persoalan, piawai pula menyampaikannya, bahkan dengan menyelipkan joke segar.

Usai mengunjungi dan menggelar dialog di enam kampung di Malang tersebut, Hariyono menerima wartawan Media Bhayangkara, Taufik Alwie, untuk sebuah wawancara. Petikannya:

Kesimpulan apa yang bisa ditarik dari kunjungan dan dialog di enam titik di Malang ini?

Kebetulan yang kita kunjungi merupakan contoh-contoh yang relatif sudah menerapkan nilai-nilai Pancasila. Banyak hikmah yang bisa kita ambil. Ternyata masyarakat  untuk mengatasi masalah yang ada di komunitasnya tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Tapi dengan kebersamaan, mereka bisa mengatasi masalahnya dengan baik.  Nah, mengatasi masalah secara kebersamaan itu kan ternyata gotong royong. Jadi kerjasama atau kolaborasi,  disadari atau  tidak, di era sekarang pun menjadi sebuah kebutuhan atau keniscayaan.

Tapi kita juga sadar bahwa contoh-contoh kecil ini belum menjadi bagian dari suastu sistem, sehingga masih sangat tergantung pada tokohnya. Kita khawatir kalau tokohnya itu tidak ada,  bisa hilang lagi (nilai-nilai kebersamaan).  Kita berharap ke depan, lewat Jaringan Kampung Nusantara (yang digagas Redy Eko Prasetyo), bisa diubah dari tokoh ke sistem sehingga nanti nilai-nilai kebersamaan dalam mengatasi masalah menjadi sebuah nilai yang melembaga, dan untuk menjadi nilai yang melembaga dibutuhkan sebuah sistem.

Kongkritnya seperti apa?

Jadi, pedoman aturan main seperti apa perlu kita diskusikan dengan mereka. Dan kita,  BPIP, berharap tdak  terlalu masuk kepada hal teknis karena kita berasumsi bahwa setiap masalah yang tahu riil adalah orang dalam sendiri, bukan orang  luar. Tapi faktanya pula,  tidak semua orang dalam yang tahu masalah itu bisa menyelesaikan. Tantangan-tantangan ini perlu diatasi.

Terus berikutnya,  berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila, bahwa sebenarnya ketika Pancasila kita gambarkan sebagai suatu ideologi pandangan hidup dan sekaligus menjadi sebuah etos, itu belum semuanya bisa dikembangkan dengan maksimal. Salah satu aspeknya, Pancasila belum menjadi logos atau ilmu. Sehingga kesan yang saya pahami, yang dialami Bapak-Ibu di lapangan itu lebih banyak berdasarkan naluri kondisi kontekstualnya. Tidak ada yang berangkat dari teori atau asumsi.

 Apakah hal itu menjadi masalah?

Itu baik, tapi tidak bisa langgeng karena tidak mampu diabstraksikan, sehingga pedoman nilai yang utama apa. Nah, inilah yang belum melibatkan kalangan akademisi dan praktisi untuk meramunya sehingga menjadi sebuah pedoman nilai. Sehingga, kalau bisa tidak hanya diterapkan di kasus-kasus kampung yang kita kunjungi,  tapi juga di kampung-kampung lain.  Kami berharap nanti Jaringan Kampung Nusantara ini bukan menjadi sub-ordinasinya BPIP, tapi menjadi mitranya BPIP, sehingga mereka punya otonomi.

Bagaimana menularkan keberhasilan kampung-kampung dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila tadi kepada kampung-kampung lain?

Sebelum melakukan penularan, kami ingin kerjasama denga Japung (Jaringan Kampung Nusantara), karena apa yang berhasil tidak serta-merta absorbable, bisa diterapkan di tempat lain. Kita perlu refleksi, refleksi inilah yang perlu kita diskusikan bersama. Sehingga ketika itu ditawarkan ke publik, jangan sampai ekspektasi publik terlalu tinggi tapi kondisi berbeda. Kita harus tahu prasyarat-prasyarat apa yang harus dipenuhi atau terpenuhi untuk mencapai itu.

Yang perlu ditekankan, mereka perlu berubah.  Dan ketika mereka berubah, jangan sampai ketika kita masuk, justru menghilangkan kemandirian mereka. Mungkin karena uang, mungkn karena konsep. Makanya kalau kita belajar dengan istilah diksi menggali, itu kan justru kita harus menggali di komunitas itu. Informasi dan  ceramah-ceramah kita dialogis, sehingga kesannya tidak menggurui, karena yang di lapangan mereka yang paling tahu.

Bagaimana supaya dialog bisa optimal?

Dalam dialog itu dibutuhkan kerendahan hati. Nah, ini kan seringkali orang kampus, akademisi,  nggak bisa rendah hati, karena expert mind, pikiran ahlinya itu. Padahal dengan rendah hati itu kita bisa terima informasi, bisa belajar. Kita harapkan nanti dampaknya masyarakat menjadi masyarakat pembelajar, yang belajar terus-menerus.

 Apakah faktor etnis, ekonomis, pendidikan dan sebagainya, berpengaruh dalam menentukan suatu masyarakat bisa berubah atau tidak?

Perubahan tidak dipengaruhi faktor apapun. Asumsi kami, mental itu bisa diubah.  Faktor pengubahnya itu ada nggak? Bisa tokoh, tokoh itu punya jaringan atau tidak. Yang diperlukan adalah memberi contoh keberhasilan. Dengan melihat contoh, (masyarakat) lebih bisa menerima.

Saat ini, BPIP hanya masuk ke kampung-kampung yang telah mengamalkan nilai Pancasila. Ke depan, bisakah masuk ke “kampung non-Pancasila” seperti kampung narkoba, sarang prostitusi?

Bisa saja. Tapi kami mempertimbangkan, ketika akan bergerak, ajaklah yang mau dulu, sehingga energimu tidak habis. Ketika kita bergerak ngajak orang yang susah, energi kita habis. Ini kan diharapkan seperti bola salju, kita bisa membuktikan bahwa itu bisa. Bisa berubah. Lagi pula dengan gerakan di kampung-kampung  kami selalu mengatakan, ajaklah yang mau dulu, yang nggak mau ditinggal aja dulu, karena biasanya mereka menunggu, mau lihat hasilnya dulu. Nah, ini yang kita sebut advokasi positif. Umumnya orang mau berubah setelah ada bukti. Sehingga nanti harapan kita setelah Japung (Jaringan Kampung Nusantara) menjadi wacana publik, orang yang kita datangi (untuk diajak berubah) nggak resisten.

Apa goal besar BPIP?

Goal besarnya, bagaimana Pancasila menjadi landasan kehidupan bangsa dan negara. Dalam bahasa sederhana, menjadi basis sekalgus tujuan pembangunan. Nah, itu yg paling utama. BPIP akan memberikan rekomendasi kepada presiden tentang arah pembinaan ideologi Pancasila seperti apa. Apakah seperti P4,  atau P4 hanya salah satu aspek, dan P4 juga harus direvisi. Mungkin sosialisasi kemasyarakatan tetap, tetapi metode penyampaian harus lebih banyak dialogis, dengan contoh-contoh kasus, itu lebih baik.

Fungsi BPIP lebih banyak koordinasi dan sinkronisasi, melibatkan lembaga dan pakar lain, sehingga kita berharap produk BPIP  tidk hanya memenuhi persyaratan legalitas, strutktural prosedural terpenuhi; tapi juga memenuhi syarat sosiologis, mendapat legitimasi karena ini tidak disusun sendirian.

Selain memberikan rekomendasi kepada Presiden, kita sekarang sedang menyusun Garis-garis Besar Pembinaan Ideologi Pancasila.  Kami ingin garis-garis besar ini tidak hanya punya refrensi secara teoritik akademik, sebagai naskah akademik, tapi juga ingin bukti-bukti di lapangan.

Kapan Garis-garis Besar Pembinaan Ideologi Pancasila itu rampung?

Sudah berproses,  kami berharap dua bulan ini bisa selesai, karena sebenarnya sejak zaman Pak Yudi Latif (Kepala Unit Kerja Presiden  Pembinaan Ideologi Pancasila, sebelum berubah menjadi BPIP), sudah mulai, tapi mengalami perubahan-perubahan asumsi.  ***

 

article bottom ad