Home Bhinneka Resolusi Menteng : Menggali dan Menularkan Nilai Pancasila  

Resolusi Menteng : Menggali dan Menularkan Nilai Pancasila  

SHARE
Peserta FGD berfoto bersama Anggota Dewan Pengarah BPIP Try Sutrisno, dan Plt. Kepala BPIP, Prof. Hariyono. Foto: Istimewa
article top ad

Jakarta, MB — Jika tak ada aral menghadang, dalam waktu tak terlalu lama lagi pembakti kampung, komunitas dan jejaring nusantara—kelompok yang secara sadar telah mempraktikkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila—diharapkan akan bertumbuhkembang kian pesat, bahkan bukan tidak mungkin sampai menjangkau seluruh pelosok Nusantara.

Harapan sekaligus optimisme besar ini setidaknya tercermin dari sebuah resolusi penting terkait upaya memetakan dan menggali mutiara Pancasila di pelosok Tanah Air, yang berhasil disusun dengan apik lewat focus group discussion (FGD) yang diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Hotel Hermitage, kawasan Menteng, Jakarta, 25-26 Februari lalu.

article inline ad

“Resolusi Menteng”  yang dihasilkan lewat serangkaian diskusi alot  itu sendiri terdiri  dari dua bagian, yaitu Pemetaan, dan Belanja Masalah. Nah, pada bagian Pemetaan, secara jelas disebutkan bahwa perwakilan komunitas yang hadir dalam FGD menjadi PIC (person in charge) BPIP untuk menyambung informasi kepada komunitas lainnya di wilayah masing-masing, dan mengajak semuanya ikut bergabung membangun jejaring pembakti kampung, komunitas, dan jejaring nusantara. Di situ disebutkan pula, agar membuat grup WA dengan admin dari tim BPIP, guna melakukan pemetaan lebih lanjut.

Direktur Pembudayaan BPIP, Irene Camelyn Sinaga, yang menjadi penanggungjawab FGD, mengaku puas dengan resolusi yang dihasilkan dari FGD tersebut. Ia menuturkan, poin-poin resolusi tersebut lebih banyak merupakan masukan dari para perwakilan komunitas, sehingga ia berkeyakinan akan dijalankan dengan baik oleh perwakilan komunitas, termasuk untuk item sebagai PIC BPIP dalam menyambung informasi kepada komunitas lainnya.

Menurut Irene, keberhasilan komunitas-komunitas tersebut dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan sehari-hari, seperti bergotong-royong, tenggang-rasa dan sikap mau berkorban demi kepentingan warga dan lingkungan sekitar, patut diduplikasi dan ditularkan kepada komunitas-komunitas lainnya. “Kita perlu mengeksposenya ke seluruh masyarakat, bahwa kegiatan mereka (para komunitas) terbukti berhasil meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakatnya,” kata Irene kepada MB.

Fakta memang menunjukkan bahwa kegiatan para komunitas itu telah berhasil menghadirkan “kampung-kampung Pancasila” yang secara sosial kualitasnya menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Dengan bergotong-royong, mereka berhasil mengubah kampung mereka yang kumuh menjadi asri, bebas banjir, tertib, dan nyaman, sesuai tematik masing-masing. Secara ekonomi juga mengalami peningkatan, antara lain dengan adanya sentra kerajinan yang berkembang, budidaya tanaman hidroponik, mau pun pengembangan seni budaya.

FGD dengan tema “Pemetaan Pembakti Kampung, Komunitas, dan Jejaring Nusantara–Belanja Potensi dan Masalah sebagai Analisa Pengambilan Kebijakan” yang diikuti 16 perwakilan komunitas serta segenap unsur BPIP itu dibuka Plt. Kepala BPIP, Prof. Hariyono. Saat FGD berlangsung, anggota Dewan Pengarah BPIP yang juga mantan Wapres Try Sutrisno, menyempatkan diri menyambangi para peserta FGD, membuat suasana makin meriah.

Dalam sambutannya, Hariyono kembali mengingatkan bahwa gotong-royong selama ini dimaknai sebatas kerja bakti. Menurut Hariyono, jika disepakati bahwa gotong-royong merupakan konten Pancasila, kenapa tidak mengangkatnya ke tataran yang lebih tinggi,  yaitu kebijakan. Sehingga BPIP sedang mengusulkan manajemen pemerintahan gotong-royong, berkoordinasi dan bekerjasama dengan kementerian dan lembaga lain. Hariyono mencermati, selama ini kementerian dan lembaga berjalan sendiri-sendiri. “Rakyat disuruh gotong-royong, tapi pengambil kebijakannya tidak mau gotong-royong. Jadi, ada inkonsistensi,” katanya.

Kepada para perwakilan komunitas yang menjadi peserta FGD, Hariyono menyampaikan apresiasinya. “Jujur, kami ingin belajar menggali mutiara Pancasila yang selama ini Bapak/Ibu telah lakukan. Bapak/Ibu sadar atau tidak, telah melaksanakan Pancasila tanpa harus mengikuti penataran Pancasila,” ucap Hariyono.

 

Isu strategis dan rekomendasinya

Pada resolusi menyangkut Belanja Masalah, terdapat tujuh isu strategis berikut rekomendasinya, yang secara kontekstual sangat mendukung upaya-upaya BPIP dan kelompok masyarakat dalam menggali mutiara Pancasila di Nusantara. Yang pertama,  isu strategis menyangkut pembagian peran antar Kementerian/Lembaga yang belum bersinergi; kedua, timbulnya radikalisme negatif, penggerusan kearifan lokal, dan menguatnya konservatisme religius; ketiga, relasi sosial yang tidak harmonis akibat eksklusivisme kelompok; dan keempat,  munculnya narasi-narasi yang memecah-belah persatuan.

Lalu kelima,  menyangkut regulasi negara  yang  terkadang justru menghambat perkembangan praktik kearifan lokal; keenam, metodologi pembelajaran nilai-nilai Pancasila di dalam sistem pendidikan masih bersifat hafalan; dan ketujuh, problem lintas generasi dalam memahami nilai-nilai Pancasila yang menjawab tantangan zaman.

Terhadap isu-isu strategis tadi, telah pula disertakan rekomendasinya. Misalnya, menyangkut pembagian peran antar Kementerian/Lembaga, rekomendasinya adalah BPIP melakukan sinergitas terhadap program-program Kementerian/Lembaga terkait. Untuk menangkal timbulnya radikalisme negatif, BPIP memperkuat konten literasi yang memuat nilai-nilai Pancasila, baik digital mau pun non-digital, serta membuat Call Center sebagai sarana partisipasi publik dalam menangkal radikalisme negatif. Di samping itu, merekomendasikan kepada Kementerian/Lembaga untuk memperkuat program revitalisasi kearifan lokal.

Menyangkut isu relasi sosial yang tidak harmonis, BPIP akan memfasilitasi ruang perjumpaan dan dialog antar-kelompok di daerah. Terhadap munculnya narasi yang memecah-belah persatuan, BPIP akan memproduksi narasi mitigasi keterpecahbelahan persatuan dan ditindaklanjuti kepada pihak berwenang. Sedangkan mengenai regulasi yang terkadang justru menghambat perkembangan praktik kearifan lokal, BPIP akan mendorong Kementerian/Lembaga untuk mengkaji Peraturan Perundangan yang menghambat kearifan lokal.

Menyikapi isu metodologi pembelajaran nilai Pancasila dalam sistem pendidikan yang masih bersifat hafalan,  BPIP perlu membuat metodologi pembelajaran nilai Pancasila yang kreatif, partisipatif, dan aplikatif dalam keseharian. Sedangkan terhadap isu problem lintas generasi dalam memahami nilai-nilai Pancasila yang menjawab perkembangan zaman, BPIP akan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila melalui media yang sesuai dengan perkembangan zaman. Juga perlu mengadakan jambore nasional pembakti kampung, komunitas, dan jejaring nusantara lintas generasi untuk mengeksplorasi nilai-nilai Pancasila.

Siap melaksanakan resolusi

Para perwakilan komunitas peserta FGD menyambut baik resolusi yang dihasilkan. Mereka dengan semangat menyatakan siap melaksanakan dan terlibat dalam setiap butir-butir resolusi tersebut, terlebih butir satu resolusi Pemetaan, yang secara jelas menunjuk mereka sebagai PIC BPIP dalam menyambung informasi kepada komunitas lainnya.

Marintan Sirait dari Jendela Ide Indonesia, misalnya, menyatakan siap bekerjasama dengan BPIP dalam menggali mutiara Pancasila, termasuk menjadi PIC BPIP. “Kalau kami dari komunitas, dengan praktik yang telah kami lakukan, nah, itu tinggal menjalani saja,” kata Marintan Sirait kepada MB. Sang suami, Andar Manik, juga aktivis Jendela Ide, memuji BPIP yang membuka komunikasi dengan para komunitas.   “Mudah-mudahan dengan komunikasi yang terbuka saat ini dengan komunitas, maka akan menjadi dasar proses kolaborasi selanjutnya antara pemerintah dengan komunitas,” ucap Andar Manik.

Rangga Bisma dari PKBM Tunas Pratama di Blitar, Jawa Timur,  juga menyatakan  siap menjadi PIC BPIP serta siap membantu program BPIP. Ia menyampaikan sikap optimisme sekaligus menaruh harapan besar pada BPIP. “Harapan saya pada BPIP, Pancasila bisa masuk ke segala lini,  lintas generasai,” kata Rangga. ****

Penulis: Taufik Alwie

 

 

 

 

 

 

article bottom ad