Home Bhinneka Menggali Nilai Pancasila Kampung Budaya Polowijen

Menggali Nilai Pancasila Kampung Budaya Polowijen

SHARE
Prof. Hariyono bersama warga menari Grebeg Jowo di Kampung Budaya Polowijen, Malang, Jawa Timur. Foto: Taufik Alwie.
article top ad

Malang, MB – Dari tempatnya duduk bersila di “sebuah saung” di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang, Jawa Timur, Prof. Hariyono tampak antusias menyaksikan dua bocah membawakan Tari Topeng Grebeg Sabrang.  Sesekali,  Plt. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu  tersenyum geli.

Maklum, kedua bocah itu, M. Ajruk Faruq dan Adi Pramana, mempersembahkan tari penyambutan tamu tersebut betul-betul dengan ekspresif. Terlebih Adi Pramana yang masih duduk di TK Asy-Syahriyah. Meski tubuhnya terbilang bongsor, dan usianya masih sangat belia,  toh gerakannya lincah penuh semangat, tak kalah dengan rekannya Ajruk Faruq, siswa kelas IV SD.

article inline ad

Gerak tangan, hentakan kaki, dan liukan badan serta gelengan kepala mereka sangat serasi dan berenergi. Hanya saja, lantaran area untuk menari tidak cukup longgar, ditambah pula lubang mata topeng yang kecil sehingga area pandang  terbatas, tak ayal di saat awal menari, kedua bocah penari itu sempat “disorientasi”, membuat penonton terpingkal, dan Prof. Hariyono tersenyum geli.

Usai kedua bocah itu menari dan membuka topengnya, Prof. Hariyono bersama hadirin pun bertepuk tangan tangan meriah. Kentara sekali ia sangat menikmati gerakan kedua bocah yang menari persis di depannya tersebut, di dalam saung  yang berfungsi sebagai balai warga itu.

Tak berlebihan bila Hariyono yang “Arek Malang” ini kemudian melontarkan pujian, baik kepada si penari, pelatihnya, mau pun kepada Isa Wahyudi atau Ki Demang sebagai penggagas Kampung Budaya Polowijen, yang dinilainya  telah berhasil merawat dan mengembangkan budaya lokal dengan baik. Apalagi, Ki Demang juga mengembangkan seni pembuatan topeng, seni membatik, dan membangun perpustakaan sederhana.

“Kami sangat mengapresiasi dan berterimakasih khususnya kepada Ki Demang yang telah mengembangkan tari di Kampung Budaya Polowijen, juga mengembangkan perpustakaan.  Ini merupakan bagian dari aktualisasi nilai-nilai Pancasila,” ucap Hariyono ketika menyampaikan sambutan dalam pertemuan pada Ahad (17/2) itu . Sebelum memberikan sambutan, Hariyono dan hadirin serta warga menari bersama membawakan Tari Grebeg Jowo.

Hari itu, Prof. Hariyono bersama Direktur Pembudayaan BPIP Irene Camelyn Sinaga, berkunjung ke lima titik di wilayah Malang, yang masyarakatnya telah mengembangkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.  Dalam kunjungan ini, tim dari BPIP didampingi oleh Redy Eko Prasetyo dari Jaringan Kampung Nusantara, sebuah komunitas yang beranggotakan sekitar 60 kampung di sejumlah daerah di Tanah Air yang telah mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Selain  Kampung Budaya Polowijen, empat  titik lainnya yang dikunjungi pada Ahad itu adalah Kampung Tunggulwulung, Kampung Cempluk, Kampung Tani di Batu, dan Kampung Jabung.  Keesokan harinya, Senin (18/2), kunjungan dilanjutkan ke Kampung Gondowangi. Di enam titik tersebut, Hariyono menggelar dialog dan menggali nilai-nilai Pancasila yang telah tumbuh di masyarakat kampung tersebut. Tokoh dan warga kampung yang dikunjungi menyambut dengan sukacita.

 

 

Kampung budaya dengan nilai-nilai Pancasila

Sejatinya, Kampung Budaya Polowijen merupakan sepotong wilayah tingkat RT, yakni RT 03 dalam lingkup RW 02, Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Namun, karena budayanya yang belakangan ini terus dikembangkan dan dirawat, maka  kawasan dengan 15 kepala keluarga itu itu pun ditabalkan menjadi Kampung Budaya Polowijen, dan diresmikan pada 2 April 2017 oleh Wali Kota Malang, H. Moch. Anton.

Memang tak berlebihan jika RT 03/RW 02 di Kelurahan Polowijen itu menyandang sebutan keren sebagai Kampung Budaya Polowijen. Sesungguhnyalah, sepotong wilayah itu kental dengan budaya lokal yang merupakan budaya Polowijen asli sebagai warisan leluhur.  Di situ terdapat pula situs  seperti Sumur Windu yang merupakan tempat pemandian Ken Dedes. Ada pula makam Mbah Reni, orang pertama pembuat topeng malangan.

Sejak ditabalkan sebagai Kampung Budaya Polowijen, maka pembenahan pun terus dilakukan sehingga kampung tersebut kian menjadi asri dan indah, dengan banyak mengandalkan anyaman bambu. Sementara aktivitas dan pelajaran menari digalakkan, juga kriya topeng malangan dan batik. Warga pun banyak yang belajar menari, di antaranya Ajruk Faruq dan Adi Pramana, yang mempersembahkan Tari Topeng Grebeg  Sabrangan di hadapan tamu penting dari BPIP, serta sejumlah dosen dari berbagai perguruan tinggi.

Kampung itu pun menjadi terkenal ke pelosok nusantara, bahkan ke luar negeri. Karena kental dengan budaya, kampung ini mengalahkan popularitas lima kampung tematik lainnya di Kecamatan Blimbing. Ki Demang menuturkan, kampung ini tidak sekadar menjadi destinasi wisata, tapi juga menjadi tempat pembelajaran budaya, khususnya seni tari, pembuatan topeng dan membatik. “Sudah banyak orang asing datang ke sini untuk mempelajari budaya Polowijen,” ujar Ki Demang.

Selain orang asing, tentu saja warga dari berbagai daerah juga berdatangan ke Kampung Budaya Polowijen untuk mempelajari budaya.  Mereka yang ingin belajar dipungut biaya alakadarnya. “Nggak mahal, per hari per orang Rp 50.000, sudah termasuk makan,” tutur Heny Chanin, pegiat di kampung tersebut. Walhasil, warga kampung ini pelan-pelan sudah mulai mandiri secara ekonomi.

Pengembangan Kampung Budaya Polowijen itu atas prakarsa Ki Demang, dengan melibatkan seluruh warga kampung secara bergotong-royong dan musyawarah, yang merupakan esensi dari nilai-nilai Pancasila. Nah, kampung-kampung yang masyarakatnya telah mengamalkan nilai-nilai Pancasila seperti inilah yang  kini aktif dikunjungi pejabat BPIP. Tak hanya memberi apresiasi, tapi juga sekaligus berupaya menggali nilai-nilai Pancasila di daerah itu, untuk kemudian dapat ditularkan ke daerah lain.

Menurut Hariyono, kehadiran kampung-kampung dengan pengamalan nilai-nilai Pancasila tersebut, seperti gotong-royong, musyawarah, bertenggang rasa, dan berani berkorban untuk kepentingan masyarakat dan lingkungannya, dapat diharapkan menjadi benteng terhadap berbagai bentuk ancaman seperti narkoba, terorisme, atau pun paham-paham tertentu.

Hariyono menjelaskan, BPIP bersama segenap elemen masyarakat berupaya terus mengembangkan nilai-nilai Pancasila sebagai alat pemersatu anak bangsa—tidak peduli etnis, agama, dan latar belakang—serta sekaligus sebagai bintang penuntun yang dinamis. Ia sangat mengapresiasi kampung-kampung yang  masyarakatnya telah banyak mengamalkan nilai-nilai Pancasila. “Pancasila digali dari bumi indonesia, sehingga nilai-nilainya tentunya ada diseluruh pelosok Nusantara. Maka tanpa ada penataran Pancasila pun pun sebenarnya masyarakat sebagian besar telah mengamalkannya,” tandas Hariyono.

Penulis : Taufik Alwie

 

 

 

article bottom ad