Home Angkara Mahathir Bantah ada Lobi Bebaskan Siti

Mahathir Bantah ada Lobi Bebaskan Siti

SHARE
article top ad

KUALALUMPUR, MB – Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad membantah penyataan bahwa ada lobi Pemerintah Indonesia dalam pembebasan Siti Aisyah, tersangka pembunuhan saudara tiri Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Dikutip dari Straitstimes, pada Rabu 13 Maret 2019, dijelaskan bahwa Mahathir membantah ada tekanan diplomatik dalam upaya pembebasan warga negara Indonesia bernama Siti Aisyah yang dituduh membunuh Kim Jong Nam.

article inline ad

“Saya tidak punya informasi (mengenai itu),” tegas Mahathir menanggapi pertanyaan wartawan pada konferensi pers di parlemen pada Selasa, 12 Maret 2019.

Menurut dia, pembebasan Siti Aisyah dari dakwaan pembunuhan tersebut sudah sesuai dengan fakta hukum yang ditemukan. Sehingga ini murni keputusan pengadilan.

“Ini adalah keputusan yang dibuat oleh pengadilan. Dia diadili dan diberhentikan. Jadi ini adalah proses yang mengikuti hukum. Saya tidak tahu detailnya. Tetapi, penuntut dapat memberikan pembebasan yang tidak sebesar pembebasan,” tuturnya.

Seperti diketahui, Siti Aisyah dibebaskan pada Senin 11 Maret 2019 setelah jaksa penuntut Malaysia menjatuhkan dakwaan mengejutkan terhadapnya di pengadilan. Pemerintah Indonesia juga berulang kali melobi agar tuduhan terhadapnya dicabut dan minta diizinkan pulang.

Bahkan, Kedutaan Besar Indonesia dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo telah memerintahkan upaya mengamankan pembebasannya segera setelah dia ditangkap pada 15 Februari 2017.

Sedangkan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna Laoly, mengatakan pejabat pemerintah Indonesia telah mengadakan pertemuan dengan PM Mahathir, Jaksa Malaysia, dan polisi Malaysia tahun lalu sebagai bagian dari upaya lobi mereka untuk membebaskan Aisyah.

Sebelum dibebaskan, Siti Aisyah, perempuan warga Indonesia yang dituduh membunuh Kim Jong-Nam – saudara tiri pemimpin Korut, Kim Jong-nam – sempat berpikir bahwa hidupnya akan segera berakhir.

Berpikir Mati

Dalam wawancara dengan wartawan Siti Aisyah sempat berpikir, apakah sampai di sini kehidupanya. Wawancara berlangsung di gedung Kemenlu setelah Siti Aisyah dan keluarganya bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka pada Selasa pagi.

Dalam hukum yang berlaku Malaysia, Siti Aisyah dapat diancam hukuman mati apabila terbukti terlibat pembunuhan berencana.

Bersama seorang warga Vietnam, Doan Thi Huong, Siti Aisyah dituduh membunuh Kim Jong-nam dengan mengusapkan zat beracun VX pada wajah cucu pendiri Korea Utara itu saat dia tengah menunggu pesawat udara di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Februari 2017 lalu.

Siti dan Doan sejak awal mengatakan bahwa mereka dijebak untuk melakukan pembunuhan itu, karena setahu mereka, hal itu sekadar lucu-lucan untuk acara kelakar di televisi.

Untuk acara tersebut, mereka mengaku dibayar orang yang mirip `orang Jepang atau Korea`, sebesar RM 400 atau sekitar Rp 1,2 juta.

“Saya tidak terlibat dan saya tidak terpikir saya terlibat sampai sejauh itu,” kata Aisyah kepada BBC News Indonesia.

Para agen rahasia Korea Utara diduga memperdaya kedua perempuan itu untuk melancarkan serangan yang menghebohkan dunia itu.

Sejauh ini Pyongyang menyangkal keterlibatan mereka.  Selain Siti dan Doan, terdapat empat warga Korea Utara yang diyakini terlibat.

Kepolisian Malaysia berupaya melacak mereka, namun mereka diduga telah melarikan diri dari Malaysia sesaat setelah pembunuhan berlangsung.

Namun dalam perjalanannya, Siti Aisyah akhirnya dibebaskan dari tuntutan oleh kejaksaan Malaysia, namun ini tidak berlaku untuk terdakwa asal Vietnam, Doan Thi Huong.

article bottom ad