Home Aneka Akhirnya, Setya Novanto Kenakan Rompi Oranye KPK

Akhirnya, Setya Novanto Kenakan Rompi Oranye KPK

SHARE
article top ad

Jakarta, MB -Setya Novanto akhirnya mengenakan rompi oranye Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), setelah komisi antirasua tersebut menahan Ketua Umum Partai Golkar  di rumah tahanan KPK, Minggu 19 November 2017 malam.

Setya Novanto terseret dalam pusaran korupsi e-KTP setelah namanya mencuat dalam dakwaan eks pejabat Kemendagri Irman dan Sugiharto. Setnov diduga menjadi orang yang turut mengatur sekaligus menerima jatah proyek yang ditaksir merugikan keuangan negara hingga Rp2,3 triliun.

article inline ad

Berangkat dari temuan dan kesaksian di persidangan, serta berdasar hasil pengembangan penyidikan, KPK lantas menetapkan Setnov sebagai tersangka e-KTP pada Julis 2017.

Status tersangka itu kemudian gugur setelah Setnov menggugat lewat praperadilan. Pada 29 September 2017, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menyatakan penetapan Novanto sebagai tersangka tidak sah. Setnov pun lolos dari jerat kasus e-KTP.

KPK kemudian menetapkan kembali Setnov sebagai tersangka dalam kasus yang sama pada 10 November 2017.

Usai ditetapkan kembali sebagai tersangka, Setnov sempat menghilang. Beberapa hari kemudian, Setnov mengalami kecelakaan. Mobil yang ditumpanginya menabrak tiang listrik di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Akibatnya, Setnov dilarikan ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau dan dipindahkan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Setnov akhirnya keluar dari RSCM tempat dia dirawat sejak Jumat 17 November.

Setnov keluar dari pintu belakang Gedung RSCM yang lama dengan dibantu kursi roda.

Saat keluar wajah Setnov ditutupi kertas putih dan didampingi pengacaranya Fredrich Yunadi. Tampak juga istri Setnov mendampingi, namun keduanya masuk ke mobil berbeda. Setnov masuk ke mobil KPK.

Kini Setnov berada dalam rutan KPK.

Meski telah mengenakan rompi oranye, Setnov tak tinggal diam. Melalui kuasa hukumnya, dia berencana mengajukan kembali praperadilan. Rencananya, praperadilan Setnov yang kedua digelar pada 30 November di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Selain praperadilan, Setnov juga meminta perlindungan kepada Presiden Joko Widodo dan komisi III DPR.

Kuasa hukum Setnov, Fredrich Yunadi optimistis kliennya akan kembali memenangi praperadilan jilid II.

“Kalau tidak optimis, tidak usah ajukan,” ujar Fredrich, Senin dini hari. (Mlk)

article bottom ad