Home Abinawa Raja Kebun, DL Sitorus Meninggal di Pesawat Garuda

Raja Kebun, DL Sitorus Meninggal di Pesawat Garuda

SHARE
D.L Sitorus meninggal sesaat boarding di pesawat dari Jakarta menuju Medan.
article top ad

JAKARTA, MB – Pengusaha kawakan Darianus Lungguk Sitorus atau yang lebih banyak dikenal dengan nama DL Sitorus meninggal dunia sesaat setelah boarding di pesawat Garuda tujuan Jakarta-Medan, Kamis (3/8).
Akibatnya, Pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 188 yang seharusnya berangkat pukul 13.35 WIB menjadi tertunda keberangkatanya.
DL Sitorus adalah seorang pengusaha sukses asal Sumatera Utara yang dijuluki Si Raja Perkebunan asal Sumut.
Selain memiliki perkebunan kelapa sawit dengan luas puluhan ribu hektar, DL Sitorus juga memiliki yayasan pendidikan.
DL Sitorus dilahirkan di Parsambilan, Kecamatan Silaen, Toba Samosir, Sumut. Dia kemudian pindah dan besar di Pematang Siantar. Menikah dengan Boru Siagian, dia dikaruniai 5 orang anak, 2 perempuan dan 3 laki-laki.
Sebagai putra daerah yang disebut-sebut paling sukses di perantauan dan selalu memberikan perhatian untuk membangun kampung halaman. Bahkan namanya diabadikan menjadi nama suatu jalan di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.
Nama DL Sitorus menjadi perbincangan publik akibat anaknya Sabar Ganda Leo, yang sehari-hari memegang kendali di PT Sabar Ganda terlibat sengketa tanah seluas 9,9 hektare di Cengkareng, Jakarta Barat.

Sukses dan Dipenjara
Sengketa inilah yang membuat pengacara PT Sabar Ganda bernama Adner Sirait diduga menyuap hakim Ibrahim –hakim PT Tata Usaha Negara (TUN)– sebesar Rp 300 juta di Cempaka Putih. Ibrahim adalah hakim yang menangani sengketa tanah antara PT Sabar Ganda melawan Pemprov DKI.
Kasus hukum yang menyeret pengusaha yang diberi gelar “Raja Kebun” ini bukanlah yang pertama kalinya. Sebelumnya, tahun

D.L Sitorus meninggal sesaat boarding di pesawat dari Jakarta menuju Medan.
article inline ad

2004, DL Sitorus pernah mendekam di hotel prodeo dalam kasus perambahan hutan register 40 di Tapanuli Selatan.
Kasus ini bermula saat perusahaa milik DL Sitorus, PT Torganda mengonversi 72.000 hektare (dari 172.000 hektar) hutan di Register 40 menjadi perkebunan sawit, di Kecamatan Simangambat, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. PT Torganda mempekerjakan lebih dari 15.000 karyawan. Belum lagi karyawan yang bekerja di perusahaan keluarga. Grup Torganda juga memiliki 33 bank perkreditan rakyat (BPR).
Konversi hutan menjadi perkebunan sawit itulah yang menjebloskan DL Sitorus ke balik jeruji besi selama 8 tahun. Ia ditangkap pada 30 Agustus di Pematang Siantar dan dibawa ke Medan. Kejaksaan Agung menuduh DL Sitorus melakukan tindak pidana korupsi. Selain itu, ia juga dituduh melakukan penebangan liar.
Kesuksesan DL Sitorus di bisnis kelapa sawit ternyata membawanya ke panggung politik. Pada 20 Januari 2006, DL Sitorus mendeklarasikan Partai Peduli Rakyat Nasional, dimana dia menjadi tokoh utama pendiri partai ini.
Di dunia pendidikan, DL Sitorus yang memiliki perhatian lebih di dunia pendidikan menjabat sebagai Ketua Yayasan Abdi Karya (YADIKA) yang berdiri sejak tahun 1976. YADIKA secara bertahap telah menyelenggarakan semua strata pendidikan tingkat TK, SD, SMP, SMU, SMEA, STM, LPK dan BLK.
Tahun 1989 DL Sitorus semakin menancapkan bisnisnya di dunia pendidikan dengan mendirikan Universitas Satya Negara Indonesia (USNI), salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta.(aen)

article bottom ad