Home Angkara Novel Baswedan Punya Bukti Keterlibatan Jenderal Polisi, Siapa?

Novel Baswedan Punya Bukti Keterlibatan Jenderal Polisi, Siapa?

SHARE
article top ad

Jakarta, MB – Novel Baswedan, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, mengklaim telah mengumpulkan semua bukti berupa informasi ihwal keterlibatan seorang jenderal polisi dalam upaya pengaburan barang bukti kasus penyiraman air keras terhadap dirinya, April lalu.

Seorang perwira tinggi yang masih aktif di Markas Besar Kepolisian RI tersebut disinyalir punya andil dalam serangkaian teror terhadap penyidik KPK lainnya beberapa tahun terakhir. “Bukti ini ada. Bukan bohongan. Saya siap memberikan semuanya, sekali lagi, semuanya, kepada tim pencari fakta seandainya nanti terbentuk,” kata Novel, Rabu, 2 Agutus 2017.

article inline ad

Namun Novel menegaskan tak akan menyerahkan barang bukti tersebut ke penyidik kepolisian. “Menemukan pelaku lapangan yang menyerang saya saja tidak bisa, bagaimana ini yang lebih besar,” ujarnya.

Sebelumnya Novel juga menyampaikan rasa pesimisnya jika polisi berhasil mengungkap aktor di balik upaya penyerangan terhadapnya. Meskipun Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian telah mengeluarkan sketsa wajah terduga pelaku pada Senin, 31 Juli lalu.

“Kok, saya justru sangat yakin mereka tak tertangkap,” katanya Selasa, 1 Agustus 2017.

Novel beralasan, hingga kini, langkah polisi menuntaskan kasusnya sungguh masih jauh. Hingga saat ini saja polisi belum menangkap pelaku penyerangan di lapangan. “Apalagi berpikir sampai ke otak penyerangan,” ujarnya.

Hingga hari ke-114 penyelidikan, Polri memang belum berhasil mengungkap dua pelaku penyiraman air keras ke wajah Novel, yang terjadi pada Selasa, 11 April. Akibat serangan tersebut, Novel harus dirawat di Singapura untuk memulihkan matanya yang terluka parah.

Senin lalu, 31 Juli 2017, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian mempublikasikan sketsa wajah yang diduga milik salah seorang pelaku. Tito pun kembali memastikan akan menelusuri informasi tentang keterlibatan jenderal polisi dalam kasus ini.

Tudingan soal keterlibatan perwira tinggi Polri tersebut dilontarkan Novel beberapa waktu lalu. Novel menerima informasi tentang adanya perintah dari jenderal tersebut kepada tim penyidik agar menghapus sidik jari di cangkir blirik hijau yang diduga digunakan para pelaku sebagai wadah air keras. Kepolisian mengklaim tak menemukan sidik jari pelaku dengan dalih serbuk yang biasa digunakan untuk identifikasi tak dapat membaca gagang cangkir yang basah terpapar air keras.

Novel menduga serangan terhadap dirinya berkaitan dengan teror yang dialami penyidik KPK lainnya. Salah satu bukti yang dikantonginya adalah adanya surat berisi identitas dan berbagai informasi lainnya tentang sejumlah penyidik KPK, termasuk dirinya, lengkap dengan detail rute perjalanan harian mereka.

Juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Raden Argo Yuwono, berharap Novel Baswedan tak menolak pemeriksaan tim penyidik dan menyerahkan bukti yang dimilikinya. Sebab, kata Argo, informasi keterlibatan perwira tinggi polisi akan menjadi petunjuk hukum. “Sampai saat ini tidak jelas. Siapa namanya (jenderal polisi)? Bagaimana terjadinya, apa buktinya, lalu siapa saksinya?” kata Argo. “Tim penyidik siap setiap jam. Kapan pun dia (Novel) mau diperiksa, kami akan berangkat (ke Singapura).”

Sampai saat ini Novel masih berada di Singapura untuk menjalani perawatan setelah matanya disiram dengan air keras pada 11 April 2017.

Di tempat terpisah, koalisi yang terdiri dari Indonesia Corruption Watch, Kontras, Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, serta Pusat Studi Hukum dan Kebijakan ini menemukan beberapa kejanggalan dalam pengusutan kasus penyiraman Novel. Salah satu kejanggalan adalah tidak ditemukannya sidik jari dalam cangkir di sekitar lokasi kejadian yang digunakan penyiram air keras.

Padahal, menurut Koalisi Masyarakat Sipil Peduli KPK, sidik jari itu pasti tertinggal di cangkir karena pelaku yang secara khusus dan terarah menyiram muka Novel memerlukan konsentrasi, tenaga, dan genggaman tangan kuat pada gagang cangkir.

Menurut Koordinator KontraS Haris Azhar, fokus pengusutan polisi seharusnya bukan lagi soal pemilik sidik jari itu. “Sidik jarinya itu siapa yang hapus? Atas kepentingan siapa dan siapa yang bertanggung jawab, struktur komandonya?” ujar Haris.

Koalisi Masyarakat Sipil Peduli KPK melihat belum terungkapnya pelaku penyiraman Novel bukan disebabkan oleh ketidakmampuan Polri. Tetapi disebabkan adanya sandera kepentingan dalam internal Polri sendiri.

Koalisi mendesak Presiden untuk bersikap dan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta independen, serta mengevaluasi kinerja Polri. (Mlk)

 

article bottom ad