Home Pidana Perdata Penyidik KPK Novel Baswedan Dilaporkan ke Bareskrim Polri

Penyidik KPK Novel Baswedan Dilaporkan ke Bareskrim Polri

SHARE
article top ad

Jakarta, Mediabhayangkara.co.id – Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dilaporkan ke Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Pelapor adalah Nico Panji Tirtayasa yang pernah menjadi saksi dalam kasus suap sengketa Pilkada yang melibatkan bekas ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar.

“Saya datang ke sini mencari keadilan untuk membuka mata publik,” kata Nico pada Selasa malam, 25 Juli 2017, usai membuat laporan.

article inline ad

Ria Kusumawaty, kuasa hukum Nico, mengatakan setidaknya ada empat dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh Novel Baswedan terhadap kliennya.

Memaksa orang memberi keterangan di bawah sumpah palsu, dugaan penyalahgunaan kewenangan, indikasi perampasan kemerdekaan orang, dan indikasi tindak pidana menyuruh orang memberikan keterangan palsu di media massa.

“Kami serahkan kepada pihak berwajib untuk bertindak lebih lanjut supaya tidak ada lagi ‘Nico Nico’ lainnya,” kata Ria Kusumawaty.

Menurut Ria, kliennya itu merasa diintimidasi agar melakukan sesuatu yang tidak diketahui dan dikehendaki hingga menjerumuskan pamannya, Muchtar Effendi. Muchtar Effendi adalah orang kepercayaan Akil Mochtar yang telah divonis lima tahun penjara atas perkara sengketa pilkada tersebut.

Nico menegaskan pelaporannya itu bukan untuk menjatuhkan institusi KPK namun semata menyampaikan kebenaran. Ia berharap ada saksi-saksi lain yang berani mengikuti langkahnya.

“Bukan ingin meruntuhkan KPK, tapi bicara yang sebenarnya dan menggunakan semboyan berani jujur itu hebat. Ini lah waktunya, berani jujur saksi itu hebat,” ujarnya.

Sebelum melapor ke Bareskrim, Nico lebih dulu menghadiri sidang Pansus Hak Angket KPK di Dewan Perwakilan Rakyat. Dalam persidangan, Nico mengklaim dipaksa oleh penyidik KPK untuk memberikan kesaksian yang memberatkan para terpidana perkara ini.

Mereka adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar; orang dekat Akil, Muchtar Effendi; Wali Kota Palembang Romi Herton; dan Bupati Empat Lawang, Budi Antoni Aljufri.

“Saya disuruh mengaku mengetahui segala kegiatan paman saya, Muchtar Effendi, dan mengaku saya adalah ajudan, asisten pribadi, dan sopir paman saya,” ucapnya.

Dalam proses memberi kesaksian itu, Niko mengaku disandera oleh penyidik KPK di sebuah rumah di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Selama penyekapan, ia dipaksa bekerjasama dan harus mengikuti semua keinginan KPK.

“Mereka mengancam akan memenjarakan anak dan istri saya karena ikut mencicipi (duit) dari Muchtar Effendi,” katanya.

Niko juga mengaku pernah menerima fasilitas istimewa dari penyidik KPK yaitu pijat di Hotel Aston Jalan Rasuna Said, sebelum memberikan kesaksian di persidangan. Di tempat itu pula ia diminta jaksa penuntut umum untuk memberikan keterangan sesuai keinginan penyidik KPK.

Sejauh ini belum ada tanggapan dari Novel Baswedan maupun institusi Komisi Pemberantasan Korupsi. (Mlk)

article bottom ad