Home Nusantara Menteri Perhubungan Desak Proses Hukum Istri Jenderal Polisi Pelaku Penamparan

Menteri Perhubungan Desak Proses Hukum Istri Jenderal Polisi Pelaku Penamparan

SHARE
article top ad

Manado, Mediabhayangkara.co.id – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi angkat bicara ihwal penamparan petugas bandara Sam Ratulangi yang dilakukan seorang oknum istri Jenderal Polisi.

Budi menyesalkan tindak kekerasan yang menimpa personel Aviation Security (Avsec) ini menjadi viral setelah video seorang penumpang wanita menampar petugas karena tidak mau melepaskan jam tangan ketika masuk ruang tunggu.

article inline ad

“Seharusnya semua orang menghargai petugas yang menjalankan tanggung jawabnya untuk menjaga keamanan dan keselamatan penumpang,” ujar Budi dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 5 Juli 2017.

Menurut Budi, apa yang dilakukan petugas sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Setiap penumpang dan barang yang akan diangkut pesawat udara wajib diperiksa. Pemeriksaan menjadi tugas serta kewenangan personel Avsec sebelum memasuki daerah keamanan terbatas dan atau ruang tunggu di bandara.

Budi melanjutkan, hal tersebut dilakukan untuk menjamin tidak ada barang terlarang atau prohibited items yang dapat digunakan tindakan melawan hukum. Segala tindakan melawan hukum, kata Budi, dapat membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009, tepatnya pada Pasal 335 disebutkan bahwa terhadap penumpang, personel pesawat udara bagasi kargo, dan pos yang akan diangkut harus dilakukan pemeriksaan dan memenuhi persyaratan keamanan penerbangan. “Ini sudah jelas dan wajib bagi seluruh penumpang untuk mentaati aturan ini,” ujar Budi.

Selain dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, aturan mengenai pemeriksaan barang bawaan juga terdapat dalam Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor: SKEP/2765/XII/2010 tentang Tata Cara Pemeriksaan Keamanan Penumpang, personel pesawat udara, dan barang bawaan yang diangkut dengan pesawat udara dan orang perseorangan.

Selanjutnya Budi berharap pelaku ditindak sesuai hukum yang berlaku agar menjadi pembelajaran bagi penumpang pesawat udara lainnya. Budi juga meminta kepada seluruh penumpang pesawat udara untuk bersikap koorperatif selama menjalani prosedur penerbangan di bandara.

“Ikuti arahan petugas seperti memasukkan seluruh barang bawaan ke dalam mesin x-ray termasuk jam tangan, handphone, melepas ikat pinggang dan jaket, jika diperlukan petugas avsec punya hak penuh untuk memeriksa penumpang lebih detail, demi keselamatan dan keamanan bersama,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang penumpang pesawat Batik Air tujuan Jakarta berinisial JW memasuki ruangan tunggu penumpang lantai dua saat seorang petugas security Avsec berinisial AM menegur yang bersangkutan untuk melepaskan jam tangan dan masukannya di X Ray.

Tak terima dengan teguran tersebut pelaku memarahi korban dan langsung menampar petugas tersebut. Kejadian di Bandara Manado ini direkam dan disebarluaskan lewat media sosial.

Anehnya, penumpang yang disebut istri pejabat itu disebut melapor balik korban petugas bandara ke kepolisian. JW disebut-sebut istri polisi berpangkat brigadir jenderal.

Kabid Humas Polda Sulut Kombes Ibrahim Tompo, mengatakan, ada dua laporan yang dibuat di Polsek Bandar Udara Sam Ratulangi, masing-masing dibuat oleh pelaku penamparan dan korban penamparan. Korban penamparan adalah EW yang merupakan warga Kabupaten Minahasa Selatan, serta AM, warga Kecamatan Mapanget, Kota Manado. (Mlk)

article bottom ad