Home Nusantara Dua Orang Brigadir Polisi Berani Menghadang Mobil Dinas Kapolda NTB

Dua Orang Brigadir Polisi Berani Menghadang Mobil Dinas Kapolda NTB

SHARE
article top ad

Mataram, mediabhayangkara.co.id – Dua orang polisi berpangkar Brigadir berani menghadang mobil dinas jenderal bintang satu, Kapolda NTB. Kedua polisi tersebut adalah Brigadir I Ketut Surya Ningrat dan Brigadir Indra Jaya Kusuma, anggota Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) di Polsek Praya Barat Daya, Lombok Tengah.

Atas Tindakan tersebut, akhirnya keduanya dipanggil Kapolda NTB Brigjen Pol. Drs. Umar Septono. Di apel Senin (27/6) pagi tadi, keduanya diminta bediri persis di belakang Kapolda, disaksikan ratusan personel dari prajurit, perwira sampai pejabat utama Polda NTB.  Pada Apel tersebut, Kapolda NTB Brigjen Pol. Umar Septono bertanya alasan apa yang meberanikan Brigadir I Ketut Surya Ningrat dan Brigadir Indra Jaya Kusuma berani hentikan mobil saya. Padahal saya pakai mobil dinas, pakaian dinas,” tanya Kapolda. kemudian menyerahkan microphone ke Ketut Surya Ningrat. Dia pun menjawab tenang, tapi tegas. “Karena saya bekerja untuk masyarakat. Saya diberikan tugas untuk melindungi dan mengayomi masyarakat, bukan melayani pimpinan,” kata Ketut, riuh tepuk tangan menyambut dari peserta apel.
Kapolda meraih microphone tadi, kemudian berucap. “Saya pun merinding,” kata Kapolda, sembari mengangkat tangan kirinya yang masih memegang tongkat komando. Kapolda “angkat topi”, mengungkapkan kekagaumannya kepada dua personel di dekatnya itu.
Seorang brigadir tanpa ragu menjawab dengan lugas apa yang seharusnya dia lakukan, karena memahami esensi dari tugasnya sebagai anggota Polri pelayan penuh masyarakat. “Kenapa dia tidak takut, sebab dia mempertanggungjawabkan tugasnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dia tau, nasibnya tergantung kepada Tuhan, bukan kepada Kapolda,” ujar Kapolda lantang.

article inline ad

Pujiannya berlanjut, bahwa apa yang dilakukan dua anggota Bhabinkamtibmas itu adalah implementasi tulus dari revolusi mental yang selama ini ditanamkan kepada semua jajaranya. Sikap seperti itulah yang sangat diharapkan kepada semua fungsi, baik Reskrim, Sabhara, Intelijen. “Mindset seperti inilah yang ingin saya tanamkan kepada semua fungsi,” ajaknya.
Karena hal-hal kecil sebagaimana dilakukan dua Bhabinkamtibmas tersebut menurut Kapolda, justru dampaknya sangat besar kepada masyarakat yang merasakan langsung sentuhan pelayanan Polri.
Diceritakan, peritsiwa stop mobil Kapolda itu dilakukan Ketut dan Indra Hari Rabu (22/6) lalu, di jalur bypass Bandara Internasional Lombok (Lombok International Airport). “Waktu itu, ada orang mau menyebrang. Satu orang nenek bawa kelapa. Kebetulan ada mobil pak Kapolda dari arah barat, ya saya stop,” tutur Ketut dihubungi via ponselnya.

Hal itu secara sadar dilakukannya, dengan alasan sederhana tapi kuat kandungan maknanya, demi implementasi tugas Bhabinkamtibmas. “Saya pengen dekatkan diri kepada masyarakat saya,” akunya. Tidak untuk pujian, bukan untuk “menantang” pimpinan atau gagah gagahan. Dia punya gambaran lebih jauh tentang polisi di masa mendatang. “Agar polisi kedepan menjadi lebih baik dan dicintai masyarakat,” harap Ketut.

Sebenarnya ada keinginan Kapolda untuk turun dan menyalami dua anggota tersebut. “Tapi karena jalan ramai, khawatir macet, saya cuma minta nama anggota tadi dicatat dan saya panggil pagi ini,” ungkapnya, masih di kegiatan apel.

Kapolda NTB, Brigjen Pol Umar Septono memberi penghargaan kepada kedua anggota yang mencegat mobil dinasnya.
Kapolda NTB membayangkan, jika ada jendral Polri yang dalam keadaan terburu buru mobilnya dihentikan seorang prajurit, hanya karena akan menyebrangkan seorang warga biasa. Sebab dalam kebiasaan, iring-iringan pejabat lah yang didahulukan, setelah berlalu, baru kemudian masyarakat dilayani. “Mindset ini harus dirubah. Ketika saya harus dijegat, ya saya berhenti, mobil berhenti. Artinya apa, Kapolda saja berani mereka jegat, apalagi Bupati, Kapolres, demi pelayanan tadi,” seru Kapolda.
Atas contoh sederhana itu, semua jajarannya diharapkan memahami pedoman pelayanan kepada masyarakat sebagai tujuan pengabdian utama, bukan pelayanan kepada atasan atau pimpinan. Bahkan mental anggota Polri harus memposisikan diri takut kepada Tuhan jika tidak mampu melayani rakyat, daripada pimpinan atau pejabat publik. “Anda harus lebih takut kepada rakyat daripada orang berdasi. Ketika kendaraannya harus dihentikan ya stop saja, sampaikan bahwa saya (Anggota, red) melayani rakyat, bukan melayani pejabat atau orang berdasi,” ujarnya.

Disarankan jendral bintang satu asal Probolinggo ini, sikap semacam ini tidak boleh dilakukan atas dasar tendensi pencitrraan atau keinginan untuk dipuji atasan. Tidak harus capek bersandiwara ketika memberikan pelayanan terbaik kepada atasan, tapi pelayanan yang biasa kepada rakyat. “Sebab satu hal yang harus kita ingat, bahwa ketika kita melakukan kebaikan apapun, Tuhan melihat kita dan mencatat itu. Tanamkan ini sebaik-baiknya.

article bottom ad