Home Afrika Enam Negara Afrika Ikuti Pelatihan Perikanan Dan Kelautan di Banyuwangi

Enam Negara Afrika Ikuti Pelatihan Perikanan Dan Kelautan di Banyuwangi

SHARE
article top ad

BANYUWANGI – mediabhayangkara.co.id Pelatihan perikanan dan kelautan yang bertajuk International Training Workshop on Sustainable Marine Fishery Product Development for African Countries, diadakan Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP) Banyuwangi. Enam negara di Afrika mengikuti pelatihan yang digelar selama tujuh hari, mulai 23 hingga 30 Mei. 

Terdapat 12 orang yang berasal enam negara, Kenya, Madagaskar, Mozambik, Namibia, Sudan dan Z‎imbabwe. Mereka terdiri dari kalangan pemerintah, pengusaha, dan pelaku utama di bidang perikanan seperti nelayan dan pengolah hasil perikanan.

article inline ad

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP) Rifky Effendi Hardijanto mengatakan pelatihan ini merupakan kegiatan penguatan Kerjasama Selatan Selatan Triangular (KKST) dalam rangka peningkatan komitmen Kementerian Kelautan dan Perikanan membangun SDM kelautan dan perikanan di kawasan global. KKST dibentuk oleh PBB untuk pembangunan negara berkembang.

Banyuwangi sendiri dipilih karena sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) 2015, sub sektor perikanan menempati kelompok 15 besar dari 40 sub sektor usaha ekonomi pada urutan kontribusi sub sektor terhadap PDRB Banyuwangi.

Dalam workshop ini, imbuh Rifky, materi yang diajarkan adalah pengembangan kebijakan sektor perikanan dan kelautan beserta tantangannya, teknik penangkapan ikan, penggunaan alat tangkap bubu, dan pembuatan olahan produk berbahan dasar ikan.

Selasa siang (24/5) para peserta tampak serius belajar membuat bubu ikan di bengkel kerja di BPPP. Peserta diajarkan step by step pembuatan, mulai dari cara memotong besi, kerangkanya sampai memasang jaring di bubu. 
Anna Erastus, Director of  Policy, Planning, and Economist, Ministry of Fisheries and Marine Resources Namibia; mengatakan, dia sangat senang mengikuti pelatihan di Banyuwangi ini. Pelatihan pembuatan bubu ini menjadi cara baru yang lebih efisien bagi penangkapan ikan di negaranya. Bubu yang dinegaranya disebut traps biasanya dipakai untuk menangkap lobster dan kepiting. “Kami juga memiliki alat tangkap seperti bubu tapi berbeda dengan disini. Bubu ini lebih mudah dibuat, lebih murah dan lebih efisien karena bisa dilipat,” katanya.

Peserta lainnya, Farida Hassani, Regional Manager Ministry of Halleutic Resources and Fisheries dari Madagascar mengatakan bahwa bubu sebagai alat tangkap ikan ini juga sangat bermanfaat. Apalagi nelayan di Madagaskar sebagian besar juga nelayan tradisional, sehingga bubu ini sangat tepat diterapkan di negaranya.  

Sementara itu, Kepala BP3 Banyuwangi  Wayan Suarya mengatakan peserta pelatihan tersebut sengaja diberikan pelatihan penangkapan dan pengoperasian yang sifatnya ramah lingkungan. Salah satu pembuatan alat penangkapan ikan yang diajarkan adalah bubu gol dong, yang terbuat dari besi dan jaring serta dapat dilipat. 

“Di Afrika, mereka menggunakan alat yang terbuat dari bambu, masih sangat tradisional. Di sini kita ajarkan besi bambu tipis. Bubu meski kelihatannya sederhana, namun bisa menangkap ikan yang banyak,” kata Wayan. Apalagi, bila diletakkan di dasar laut, hasilnya yang didapat merupakan komoditas-komoditas yang mahal. 
Pelatihan pembuatan bubu ini berlangsung selama dua hari. Selanjutnya mereka akan diajak praktek pemasangan bubu di laut pada 25 dan 26 Mei.

Selain itu, para peserta juga akan diajarkan membuat olahan makanan dari hasil laut. Seperti pembuatan nugget ikan dan bakso ikan. “Pelatihan pengelolahan ini tujuannya memberikan  nilai tambah bagi hasil perikanan,” kata Wayan.  

Pewarta : AM
Editor : Tim Redaksi

article bottom ad